Media Asuransi, JAKARTA – Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan konsep dan tujuan Kredit Program Perumahan (KPP) secara khusus ditujukan bagi kelompok wiraswasta dan merupakan transformasi dari program sebelumnya yang dikenal sebagai KUR Perumahan.
Nixon menjelaskan selama ini kelompok wiraswasta memiliki keterbatasan akses terhadap pembiayaan perumahan karena skema perbankan lebih banyak berpihak kepada masyarakat berpenghasilan tetap (fixed income).
Oleh karena itu, pemerintah menghadirkan KPP sebagai skema pembiayaan khusus bagi sektor informal dan pelaku usaha. Ia merinci KPP tidak hanya menyasar individu wiraswasta, tetapi juga mendukung sisi pasokan melalui pembiayaan bagi pengembang kecil.
“Karena ini hanya untuk wiraswasta, jadi fix income tidak boleh ya. Kalo fix income ya di KPP. Jadi (ini KPP) akan menyelesaikan persoalan wiraswasta untuk kepemilikan rumah, baik untuk kios usaha maupun untuk rumah tempat tinggal,” kata Nixon, dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.
|Baca juga: Legislator Pertanyakan Efektivitas Kredit Program Perumahan BTN (BBTN) untuk Milenial
|Baca juga: Genjot Bisnis, BTN (BBTN) Siapkan Penguatan Modal hingga Dirikan Anak Usaha Asuransi di 2026
“Harusnya ini solusi baru. Jadi di daerah-daerah ini menjadi solusi baru bagi wiraswasta sektor informal UMKM, yang selama ini susah memiliki akses, sulit memiliki rumah. Mudah-mudahan menjadi kemudahan bagi masyarakat untuk bisa memiliki rumah,” tukasnya.
Efektivitas KPP dalam menjawab persoalan kepemilikan rumah
Di sisi lain, Anggota Komisi VI DPR RI Muhammad Rifqinizamy Karsayuda menyoroti efektivitas KPP dalam menjawab persoalan kepemilikan rumah bagi masyarakat ekonomi menengah, khususnya generasi milenial.
Adapun program tersebut dicanangkan pemerintah melalui bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), salah satunya PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN. Ia menilai KPP BTN merupakan bagian dari program pemerintah sebagai wujud kehadiran negara dalam sektor perumahan nasional.
Namun demikian, Rifqinizamy mempertanyakan sejauh mana program tersebut benar-benar mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat ekonomi menengah yang saat ini didominasi oleh generasi milenial.
|Baca juga: Bank BUMD Dinilai Alami Tumpang Tindih Aturan OJK dan Pemerintah
|Baca juga: Berikut Pola Belanja Konsumen untuk Bantu Brand Maksimalkan Penjualan Online di Ramadan 2026
|Baca juga: Tantangan Makroekonomi Diramal Jadi Penghambat Industri Asuransi RI Tumbuh 40% di 2026
“Saya tertarik terkait kredit program perumahan yang KPP tadi yang disampaikan BTN. Yang saya tanyakan adalah apakah program ini betul-betul menjawab permasalahan kepemilikan perumahan oleh ekonomi menengah, yang hari ini rata-rata umurnya golongan milenial?” ujar Rifqinizamy.
Menurutnya tantangan struktural utama yang masih dihadapi masyarakat kelas menengah adalah keterbatasan akses terhadap pembiayaan perumahan. Selain itu, Rifqinizamy menilai, harga rumah saat ini masih relatif tinggi, ditambah dengan suku bunga KPR yang dinilai cukup memberatkan.
Dalam kesempatan tersebut, ia secara khusus menyinggung posisi BTN dibandingkan dengan bank-bank Himbara lainnya, terutama terkait tingkat suku bunga pembiayaan perumahan.
“Karena yang kita ketahui harga rumah hari ini memang masih cenderung tinggi dan harga bunga bank KPR masih cenderung berat untuk dihadapi oleh kalangan menengah. Selama ini saya melihat bunga BTN itu cenderung tinggi dibanding Himbara lainnya,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
