Media Asuransi, BANDUNG – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN mencatat rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) di segmen konstruksi telah turun ke bawah 10 persen atau single digit, dari sebelumnya sempat menyentuh level 26 persen.
Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyebut perbaikan kualitas kredit konstruksi tersebut didorong oleh semakin kecilnya kontribusi kredit bermasalah baru. Saat ini, beban utama masih berasal dari portofolio kredit lama atau legacy.
“Tren kualitas kredit konstruksi sebenarnya sudah turun. Sudah turun NPL-nya ya, yang ada tinggal yang lalu-lalu. Kalau yang baru angkanya sih sudah kecil,” ujar Nixon, dalam media gathering di Bandung, Jawa Barat, Kamis, 9 April 2026.
|Baca juga: BPJS Kesehatan Kerahkan Kecerdasan Buatan, Urus Klaim Kini Tak Lagi Lambat?
|Baca juga: Rasio Klaim BPJS Kesehatan di Awal 2026 Jebol Jadi 111,86%, Pecah Rekor Tertinggi dalam 8 Tahun
Ia menjelaskan kredit bermasalah yang tersisa mayoritas berasal dari pembiayaan sekitar 2020, ketika sektor properti mengalami tekanan cukup berat. Seiring berjalannya waktu, BTN terus mengupayakan penyelesaian kredit-kredit tersebut agar tidak lagi membebani kinerja perseroan.
Sejumlah langkah ditempuh, mulai dari restrukturisasi kredit, pencarian investor baru untuk mengambil alih proyek, hingga pelelangan aset. Namun, penyelesaian kredit legacy ini diakui tidak mudah karena berbagai kendala teknis di lapangan.
|Baca juga: MSIG Life dan Nanobank Syariah Luncurkan SIAGA Wujudkan Dana Berkah untuk Masa Depan Keluarga
|Baca juga: Perkuat Ekosistem Pembayaran Global, Livin’ by Mandiri Kini Bisa Digunakan di Korea Selatan
Permasalahan seperti legalitas lahan yang belum tuntas, sertifikasi yang belum beres, hingga proyek yang terdampak banjir menjadi faktor yang memperlambat proses penyelesaian. Akibatnya, kredit yang tersisa saat ini umumnya merupakan kasus-kasus yang lebih kompleks.
“Kalau yang legacy itu memang pelan-pelan, dulu sempet 26 persen (NPL Konstruksi), sekarang sudah di bawah 10, sudah single digit gitu ya. Nah, memang kita mau dorong sampai ke bawah tiga persen nantinya,” ujar Nixon.
“Caranya nggak bisa kita selesaikan, kita hapus buku. Yang berusaha masih bisa kita selesaikan, kita cariin jodohnya gitu ya supaya ada investor baru, ada lelang dan sebagainya,” tambahnya.
|Baca juga: OCBC (NISP) Tebar Dividen Rp1,03 Triliun dan Siap Buyback Saham
|Baca juga: Allianz Syariah Komitmen Hadirkan Perlindungan Inklusif untuk Keluarga Indonesia
Ke depan, BTN menargetkan rasio NPL konstruksi dapat ditekan lebih rendah hingga berada di bawah tiga persen, seiring dengan penerapan prinsip kehati-hatian yang lebih ketat dalam penyaluran kredit baru.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
