Media Asuransi, JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN mendorong optimalisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan sebagai alternatif pembiayaan hunian bagi masyarakat sektor informal.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan skema ini dinilai lebih berkelanjutan bagi perbankan dibandingkan dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang selama ini membatasi margin keuntungan.
Ia mengatakan KUR Perumahan yang diluncurkan pada Oktober 2025 memberikan ruang margin yang lebih sehat, tanpa mengurangi keterjangkauan bagi masyarakat. Skema tersebut juga tetap mendapatkan dukungan subsidi dari pemerintah.
“Di KUR Perumahan, bunganya disubsidi negara. Ke masyarakat tetap enam persen, sementara BTN mendapatkan subsidi sekitar 5–5,5 persen. Ini jauh lebih baik dibanding FLPP yang bunganya hanya lima persen dan tidak boleh naik,” ujar Nixon, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.
|Baca juga: Tanpa Terobosan, Ekonomi RI Dinilai Tidak Bakal Tumbuh 8%!
|Baca juga: Tok! Pelaku Penipuan Mengatasnamakan Taspen Divonis 3 Tahun Penjara
|Baca juga: OJK Diminta Wajib Buka Pelayanan Pengaduan Penipuan Digital 24 Jam
Menurut Nixon selama ini kredit FLPP menekan kinerja laba BTN karena bunga yang rendah dan tenor panjang hingga 20 tahun. Di sisi lain, bank tetap menanggung biaya premi asuransi yang cenderung meningkat, sehingga membuat tingkat imbal hasil BTN menjadi yang terendah di industri perbankan.
KUR Perumahan sendiri ditujukan bagi masyarakat sektor informal atau non-fixed income yang selama ini sulit mengakses pembiayaan perumahan. Skema ini dinilai membuka peluang kepemilikan rumah yang lebih luas, terutama di daerah.
“Ini harusnya jadi solusi baru. Banyak masyarakat sektor informal selama ini kesulitan punya rumah, dan KUR Perumahan bisa menjawab kebutuhan itu,” pungkas Nixon.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
