Media Asuransi, JAKARTA – Bayangan tentang masa pensiun sering kali terasa seperti sesuatu yang masih jauh dari pikiran banyak orang. Gambaran tentang menikmati waktu santai di rumah, menyeruput kopi di pagi hari, atau menghabiskan waktu bersama cucu memang terdengar menyenangkan.
Namun, di balik bayangan masa tua yang tenang itu, ada satu hal penting yang sering luput dari perhatian, yakni bagaimana memastikan ketersediaan dana ketika seseorang sudah tidak lagi bekerja.
Saat memasuki masa pensiun, aktivitas kerja memang berhenti, tetapi kebutuhan hidup tidak ikut berhenti. Pengeluaran seperti biaya makan, listrik, hingga kebutuhan kesehatan tetap harus dipenuhi.
Bahkan, kebutuhan kesehatan biasanya meningkat seiring bertambahnya usia. Tanpa perencanaan keuangan yang matang sejak dini, kondisi tersebut berpotensi membuat masa pensiun justru menjadi beban bagi diri sendiri maupun keluarga. Lantas mengapa perlu membuat rencana pensiun sedini mungkin?
|Baca juga: Jangan Asal Menabung, Begini 5 Cara Memilih Tabungan Sesuai Kebutuhan
|Baca juga: 9 Tips Mengatur Keuangan Keluarga di Awal 2026 agar Lebih Aman dan Terkendali
Melansir laman Nobu Bank, Minggu, 29 Maret 2026, salah satu alasan utama mengapa perencanaan dana pensiun perlu dilakukan sejak awal adalah faktor inflasi. Nilai uang yang dimiliki saat ini tidak akan memiliki daya beli yang sama di masa depan.
Dalam jangka waktu 20 hingga 30 tahun ke depan, harga berbagai kebutuhan hidup hampir pasti mengalami kenaikan. Tanpa memperhitungkan hal ini, seseorang bisa saja merasa telah memiliki tabungan yang cukup besar, padahal nilai tersebut mungkin hanya mampu menopang kebutuhan hidup dalam waktu yang relatif singkat.
Oleh karena itu, menghitung kebutuhan dana pensiun sejak sekarang menjadi langkah penting agar target keuangan yang disusun lebih realistis. Dengan mengetahui estimasi kebutuhan dana di masa tua, seseorang dapat menentukan berapa besar dana yang perlu disisihkan secara rutin dari penghasilan bulanan.
Cara ini membuat proses menabung terasa lebih terencana dan tidak terlalu membebani karena dilakukan secara bertahap dalam jangka panjang.
Langkah 1: Estimasi biaya hidup bulanan
Tahap awal dalam menghitung kebutuhan dana pensiun adalah memperkirakan besaran biaya hidup yang dibutuhkan setiap bulan di masa tua. Proyeksi ini dapat disesuaikan dengan gaya hidup yang diinginkan, misalnya, apakah tetap tinggal di kota besar atau memilih pindah ke daerah dengan biaya hidup yang lebih rendah.
Secara umum, para perencana keuangan menyarankan kebutuhan dana pensiun berkisar antara 70 persen hingga 80 persen dari pengeluaran bulanan saat masih aktif bekerja.
Angka tersebut dianggap cukup karena beberapa pengeluaran biasanya sudah berkurang, seperti cicilan rumah yang telah lunas, biaya pendidikan anak yang selesai, serta pengeluaran transportasi atau pakaian kerja.
|Baca juga: Ternyata Ini Manfaat Punya Asuransi
|Baca juga: Lebih Aman dan Praktis, Ini 6 Manfaat Punya Rekening Tabungan
Sebagai ilustrasi, jika saat ini pengeluaran bulanan mencapai Rp10 juta maka kebutuhan hidup setelah pensiun diperkirakan berada di kisaran Rp7 juta hingga Rp8 juta per bulan dalam nilai uang saat ini. Angka tersebut masih merupakan estimasi dasar sebelum memperhitungkan faktor inflasi di masa mendatang.
Langkah 2: Menggunakan aturan empat persen (The 4% Rule)
Salah satu metode yang cukup dikenal dalam perencanaan dana pensiun adalah The 4% Rule. Konsep ini menyebutkan bahwa seseorang dapat menarik sekitar empat persen dari total dana pensiun setiap tahun tanpa menghabiskan pokok dana tersebut, selama dana tersebut ditempatkan dalam instrumen investasi yang tepat.
Cara menghitungnya relatif sederhana, yaitu dengan mengalikan kebutuhan dana tahunan dengan angka 25. Sebagai contoh, jika seseorang membutuhkan Rp100 juta per tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup setelah pensiun, maka perhitungannya menjadi:
Rp100.000.000 × 25 = Rp2.500.000.000
Artinya, dana pensiun yang perlu dipersiapkan sekitar Rp2,5 miliar agar seseorang dapat menarik Rp100 juta setiap tahun secara relatif aman. Meskipun terlihat besar, namn angka tersebut dapat dicapai secara bertahap melalui investasi jangka panjang yang memanfaatkan efek bunga majemuk atau compound interest.
Langkah 3: Menghadapi realitas inflasi
Faktor inflasi sering kali menjadi aspek yang terabaikan dalam perencanaan keuangan jangka panjang. Padahal, jika seseorang berencana pensiun dalam 20 tahun ke depan, nilai kebutuhan dana yang dihitung saat ini harus disesuaikan dengan kenaikan harga di masa mendatang.
|Baca juga: Bos Allianz Syariah: Penyakit Kritis Dapat Ubah Kehidupan Keluarga dalam Sekejap
|Baca juga: Allianz Syariah Bayar Klaim Penyakit Kritis Rp600 Miliar di 2025, Dikontribusikan 3 Penyakit Ini!
|Baca juga: Allianz Syariah: Asuransi Kesehatan Saja Tidak Cukup, Perlu Proteksi Penyakit Kritis
Sebagai gambaran, dengan asumsi inflasi rata-rata sebesar lima persen per tahun, biaya hidup yang saat ini mencapai Rp100 juta per tahun akan meningkat secara signifikan dalam dua dekade ke depan. Hal ini menunjukkan angka kebutuhan dana pensiun perlu disesuaikan agar tetap mampu menjaga daya beli di masa tua.
Untuk membantu perhitungan tersebut, berbagai kalkulator finansial daring dapat dimanfaatkan guna memperkirakan nilai dana di masa depan. Pendekatan ini memungkinkan seseorang tidak hanya berfokus pada nominal uang saat ini, tetapi juga kemampuan dana tersebut dalam memenuhi kebutuhan hidup di masa mendatang.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
