1
1

DBS CIO 2Q26 Insights: Investor Disarankan Optimalkan Manajemen Risiko saat Konflik Memanas

Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook. | Foto: DBS

Media Asuransi, JAKARTA – Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook menilai karena konflik terus berkembang maka investor disarankan untuk mengadopsi langkah-langkah manajemen risiko dalam konstruksi portofolio mereka. Hal itu termasuk mendapatkan eksposur yang lebih besar terhadap emas.

“Dan mengganti sebagian eksposur saham Amerika Serikat (AS) dengan Indeks Volatilitas Rendah S&P 500,” kata Hou Wey Fook, dalam Media Briefing DBS Chief Investment Officer (CIO) Insights bertajuk ‘Resilience in Chaos: Key Investment Takeaways‘, Jumat, 13 Maret 2026.

|Baca juga: FWD Insurance Hadirkan Perlindungan Jiwa Syariah FWD Rencana Sejahtera

|Baca juga: Milenial hingga Gen Z Dinilai Jadi Motor Percepatan Inklusi Keuangan Syariah

Ia menambahkan saat ini memang masa terbaik sekaligus masa terburuk dan berikut adalah tema-tema yang akan mendominasi narasi di kuartal II/2026 yakni pertama, perang Timur Tengah dan dampaknya terhadap aset berisiko.

Dalam hal ini, minyak tetap menjadi saluran transmisi utama krisis, mengingat peran Iran sebagai produsen OPEC terbesar keempat. Skala dan durasi guncangan harga minyak bergantung pada perkembangan di Selat Hormuz yang merupakan titik kritis untuk perdagangan minyak dan LNG global.

“Kenaikan harga energi menjadi masalah bagi aset berisiko karena meningkatkan ekspektasi inflasi, membatasi ruang lingkup pelonggaran moneter bank sentral, dan membebani pertumbuhan ekonomi,” tukasnya.

Kedua, perubahan narasi Kevin Warsh dan The Fed. Sikap kebijakan Kevin Warsh menandakan potensi perubahan narasi Federal Reserve. Ia percaya peningkatan produksi yang dipimpin AI memungkinkan pemotongan suku bunga agresif The Fed tanpa memicu inflasi.

|Baca juga: AAJI Ingatkan Potensi Salah Persepsi Publik tentang Penjaminan Polis Asuransi

|Baca juga: AAJI Minta Skema Iuran Penjaminan Polis Tak Memberatkan Nasabah

Pada saat yang sama, kekhawatirannya tentang dominasi moneter menyebabkan pandangannya tentang pengurangan signifikan dalam neraca The Fed. Hal ini meningkatkan kemungkinan pengetatan kuantitatif yang diperbarui dan menyiratkan peningkatan kemiringan kurva imbal hasil, dinamika yang mendukung sektor keuangan.

Ketiga, diversifikasi di luar perdagangan yang ramai. Ketegangan geopolitik telah mengganggu pasar, memicu aksi ambil untung pada pemenang baru-baru ini seperti Korea dan Jepang. Hou Wey Fook melihat ini sebagai hal yang sementara.

“Seiring meredanya volatilitas, kami memperkirakan investor akan kembali ke fundamental dan fokus kembali pada tema-tema dominan sebelum krisis terutama logam mulia dan teknologi yang didorong oleh penurunan nilai dolar dan supremasi AI,” tukasnya.

|Baca juga: LPS Ungkap 25 Perusahaan Asuransi Dicabut Izinnya dalam 14 Tahun Terakhir

|Baca juga: GoTo dan Kemenhub Fasilitasi Mitra Driver dan Keluarga Mudik Gratis Lewat GoMudik

Hou Wey Fook menganjurkan investor untuk melakukan diversifikasi dari perdagangan yang ramai dan merekomendasikan untuk menambah eksposur ke saham pasar berkembang (EM) dan saham Jepang.

“Saham EM berpotensi diuntungkan dari pemotongan suku bunga The Fed, pelemahan dolar, pertumbuhan pendapatan yang kuat, dan posisi yang ringan. Sementara saham Jepang didukung oleh stimulus fiskal yang akan datang, reformasi tata kelola, dan selisih imbal hasil yang menarik,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Grand Blessing of Ramadan Hadirkan Harmoni dan Kemeriahan di Bulan Suci
Next Post CIMB Niaga (BNGA) Optimalkan OCTO untuk Dukung Kebutuhan Transaksi Nasabah Selama Ramadan dan Lebaran

Member Login

or