Media Asuransi, JAKARTA – Revisi outlook negatif dari lembaga pemeringkat internasional terhadap sejumlah bank milik negara dinilai mencerminkan meningkatnya risiko di sektor perbankan nasional. Salah satu penyebabnya adalah besarnya intervensi pemerintah melalui berbagai penugasan kepada bank-bank pelat merah.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan kondisi tersebut membuat lembaga pemeringkat menilai stabilitas sektor perbankan menjadi lebih rentan.
“Iya, artinya gini. Artinya memang sektor perbankan ini kan kalau boleh kita lihat di zamannya sekarang gitu ya, itu intervensinya cukup besar. Kita melihat dari sisi OJK misalkan, untuk yang sisi-sisi terkait dengan perbankan sendiri intervensinya juga cukup bukan ada tapi besar gitu ya,” ujar Huda, di Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.
|Baca juga: Zurich Pede Hadapi New RBC, Rasio Solvabilitas Sudah Capai 300%
|Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Zurich Takaful Mulai Terima Klaim Perjalanan Umrah
Menurutnya, intervensi yang besar memunculkan pertanyaan terhadap kemampuan perbankan dalam menjaga likuiditas dan kinerja keuangan, terutama ketika bank-bank tersebut mendapat penugasan pemerintah dalam berbagai program.
“Nah, di sinilah yang timbul akhirnya apakah memang bisa gagal bayar dan sebagainya, terus kemudian bagaimana untuk dari sisi menjaga kinerja likuiditas itu dipertanyakan,” ujarnya.
Huda menilai revisi outlook oleh Fitch tidak terlepas dari banyaknya penugasan pemerintah kepada bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Sejumlah program pemerintah dinilai membuat beban bank meningkat karena harus menyediakan pembiayaan dalam jumlah besar.
“Makanya ya kita sangat bilang wajar ketika Fitch ini menurunkan rating untuk perbankan itu. Terutama kalau misalkan juga di Moody’s kan juga perbankan juga sama ya,” jelas Huda.
|Baca juga: Bos OJK Pamer Kekuatan Sistem Dana Pensiun RI di Forum OECD Financial Markets Week
|Baca juga: Zurich Prediksi Premi Travel Insurance dan Kendaraan Naik saat Lebaran 2026
Selain berdampak pada persepsi risiko sektor perbankan, outlook negatif tersebut juga berpotensi memengaruhi akses pembiayaan internasional bagi bank-bank BUMN. Huda menilai kondisi itu dapat berdampak pada rencana pembiayaan berbagai proyek BUMN di masa depan, termasuk yang melibatkan investor asing.
“Pasti, pasti. Karena kan bagaimanapun juga kan yang perbankan terutama Himbara ya,” ucapnya.
Ia menambahkan persepsi risiko yang meningkat dapat membuat investor global lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di sektor keuangan Indonesia. “Ketika perbankan kita outlook-nya negatif, saya rasa akan mempengaruhi dari sisi bagaimana Danantara itu bisa membiayai proyek-proyek BUMN ke depan,” kata Huda.
Sebagai informasi, Fitch Ratings sebelumnya merevisi outlook peringkat jangka panjang dalam mata uang asing (Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating/IDR) empat bank BUMN menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Keempat bank tersebut yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, serta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indo Eximbank).
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
