1
1

Generasi Milenial dan Gen Z Wajib Tahu Doom Spending dan Cara Mengatasinya!

Ilustrasi. | Foto: Freepik

Media Asuransi, JAKARTA – Pernahkah kalian merasa mudah sekali menghabiskan uang karena belanja secara impulsif? Di tengah situasi ekonomi yang tidak stabil dan besarnya pengaruh media sosial kerap membuat kita, generasi muda, terperangkap pada gaya hidup konsumtif tanpa memikirkan kondisi keuangan.

Nah, fenomena inilah yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan di media sosial, doom spending. Apa sih itu? Apa dampaknya? Bagaimana cara menanganinya? Mengutip Nobu Bank, Sabtu, 21 Maret 2026, simak penjelasannya di bawah ini:

Apa itu doom spending?

Doom spending merupakan kebiasaan belanja secara impulsif tanpa pertimbangan panjang sebagai penghilang stres atau “healing” atas tekanan ekonomi yang semakin berat dan ketidakpastian masa depan. Sederhananya doom spending adalah pengeluaran uang secara sia-sia demi kepuasan instan.

Dikutip dari Psychology Today, berdasarkan hasil survei, doom spending umum terjadi di kalangan Milenial 43 persen dan Gen Z 35 persen. Dalam fenomena ini, individu cenderung merasa menabung itu tidak penting dan memiliki keyakinan bahwa tujuan keuangan belum tentu bisa dicapai dengan menabung.

Mereka lebih memilih menikmati hidup di saat ini dan membelanjakan uang untuk pengalaman mewah atau membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Adapun pengaruh influencer di media sosial, Fear of Missing Out (FOMO), hingga promo dan diskon besar-besaran di platform e-commerce juga menjadi kontributor terciptanya fenomena ini.

Apa dampaknya?

Sebagaimana definisinya, doom spending kerap dijadikan jalan pintas untuk melepaskan stres dan mendapatkan kepuasan instan. Pada dasarnya di dunia ini tidak ada yang instan, justru yang serba instan pasti hadir dengan berbagai risiko.

Salah satunya pengeluaran membengkak, dompet menipis karena tidak ada perencanaan yang matang. Bahkan tidak jarang doom spending mengganggu tujuan finansial jangka panjang. Terbukti dari survei Katadata Insight Center bahwa 49 persen Gen Z Indonesia kesulitan menabung secara konsisten.

|Baca juga: Jangan Asal Menabung, Begini 5 Cara Memilih Tabungan Sesuai Kebutuhan

|Baca juga: 9 Tips Mengatur Keuangan Keluarga di Awal 2026 agar Lebih Aman dan Terkendali

Sedangkan dari sisi psikologis, perilaku doom spending yang niatnya menghilangkan stres justru bisa membuat individu semakin merasa bersalah, menyesal, stres finansial, hingga gangguan kecemasan setelah melakukan belanja impulsif.

Cara mengatasi doom spending!

Setelah memahami penyebab dan dampak doom spending, maka selanjutnya kita perlu mengambil langkah untuk mengendalikannya. Nah, buat kalian yang ingin terhindar dari jebakan doom spending, berikut tiga tips yang bisa kalian coba terapkan:

1. Keinginan atau kebutuhan?

Saat akan membeli sebuah barang, coba tanyakan pada dirimu ‘apakah barang ini benar-benar dibutuhkan atau sekedar keinginan?’. Jika masih ada perasaan ragu, lebih baik tunda pembelian.

Kalian juga bisa menerapkan 24 hours rule, yaitu penundaan pembelian suatu barang selama 24 jam. Sistem ini bisa membantu kalian mengevaluasi apakah pembelian barang benar-benar dibutuhkan atau sekedar emosi sesaat.

2. Buat anggaran, tentukan skala prioritas

Pastikan kalian selalu membuat anggaran bulanan yang realistis. Tentukan berapa banyak uang yang bisa kamu alokasikan untuk belanja, beserta skala prioritasnya. Umumnya biaya hidup, di dalamnya termasuk gaya hidup dan cicilan utang, adalah 50-70 persen dari pendapatan. Berusahalah untuk selalu mematuhi budget bulananan mu dan fokus pada belanja terencana sesuai kebutuhan.

3. Ubah kebiasaan

Kalian bisa mengalihkan kebiasaan belanja impulsif dengan melakukan aktivitas lain yang lebih positif. Misalnya mencoba meditasi, olahraga, atau kegiatan lain yang sekiranya kalian sukai. Hal seperti ini dapat menjadi alternatif “healing” yang sehat dan menjauhkan kalian dari doom spending.

Dengan memahami doom spending dan mengerti cara menanganinya, kita dapat lebih bijak mengelola keuangan dan terhindar dari “kemiskinan”. Ingat, hidup bukan untuk belanja, tapi belanja untuk hidup! Dompet yang sehat = masa depan yang cerah. Jangan lupa untuk selalu cermati pengeluaran kita supaya terhindari dari doom spending!

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Begini Imbauan Allianz Indonesia terkait Risiko di Tengah Konflik Timur Tengah
Next Post Aktivitas Mudik Idulfitri 2026 Diyakini Tingkatkan Perputaran Ekonomi Nasional

Member Login

or