1
1

HSBC Indonesia Optimistis Sektor Pariwisata Tetap Tangguh Meski Ketegangan Geopolitik Jepang-China Memanas

Gedung HSBC. | Foto: HSBC

Media Asuransi, JAKARTA – PT Bank HSBC Indonesia meyakini sektor pariwisata telah bertransformasi menjadi kebutuhan primer yang tahan terhadap guncangan stabilitas politik internasional. Diharapkan industri pariwisata bisa terus tumbuh positif di masa mendatang meski kini di tengah ketidakpastian dari sisi stabilitas politik dunia.

Adapun eskalasi konflik geopolitik antara Jepang dan China yang memicu gelombang pembatalan perjalanan massal diprediksi tidak akan menyurutkan antusiasme wisatawan secara global maupun domestik. Sebagai informasi, sektor pariwisata Jepang saat ini tengah menghadapi tekanan berat setelah China mengeluarkan travel advisory.

Langkah tersebut merupakan respons atas pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait potensi keterlibatan militer dalam konflik Taiwan. Akibatnya, industri pariwisata Jepang dibayangi kerugian masif yang diperkirakan mencapai 1,8 triliun yen atau setara Rp200 triliun.

|Baca juga: Dinamika Global Masih Berlanjut, BI Siapkan Banyak Jurus untuk Jaga Stabilitas Rupiah

|Baca juga: BI Catat QRIS Tap Tembus 1,44 Juta Transaksi Senilai Rp28 Miliar di Triwulan IV/2025

|Baca juga: Penuhi Ketentuan Ekuitas Minimum, Asuransi Harta Aman Pratama (AHAP) Siap Tambah Modal di 2026

Menanggapi fenomena tersebut, International Wealth and Premier Banking Director Bank HSBC Indonesia Lanny Hendra menyatakan, dinamika geopolitik merupakan faktor yang akan terus berkembang. Namun, ia menilai, nasabah kini jauh lebih adaptif dalam mengevaluasi dan menentukan destinasi perjalanan yang dianggap aman dan nyaman.

“Situasi geopolitik akan terus berkembang. Kami percaya nasabah akan terus mengevaluasi dan memilih perjalanan yang menurut mereka nyaman dan pas. Karena geopolitik selalu berlanjut,” ujar Lanny Hendra, dalam konferensi pers HSBC Ana Travel Fair 2026, di Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026.

Terkait potensi dampak terhadap kinerja bisnis perbankan, khususnya pada instrumen kartu kredit kartu travel, Lanny menegaskan optimismenya. Merujuk pada data historis penyelenggaraan travel fair selama delapan tahun terakhir, HSBC mencatat pertumbuhan yang konsisten meski dunia kerap dihantam berbagai isu global.

|Baca juga: Implementasi QRIS Masih Belum Merata, BI: Akses Internet dan Kualitas Sinyal Jadi Kendala Utama!

|Baca juga: BI Catat Transaksi Digital Melesat di Triwulan IV/2025, Berikut Rinciannya!

|Baca juga: Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI, Peredaran Uang Primer Naik 11,4% di Desember 2025

Lanny mengungkapkan tren perjalanan justru menunjukkan kurva meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini memperkuat proposisi perusahaan bahwa kebutuhan untuk bepergian, baik untuk urusan keluarga maupun penciptaan momen personal, telah bergeser menjadi prioritas utama bagi masyarakat kelas menengah ke atas.

“Saya percaya travel itu sudah menjadi kebutuhan primer. Jadi, nasabah akan memilih di mana yang tepat, di mana yang cocok, di mana yang pas, di mana momen keluarga akan terbangun bersama kita,” tukasnya.

|Baca juga: IMF: Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh Kuat di Tengah Ketidakpastian Global

|Baca juga: Ditopang Investasi, BI Catat Kredit Perbankan Melejit 9,69% di 2025

|Baca juga: Bos BI: Penguatan Pertumbuhan Ekonomi RI di 2026 Perlu Ditopang Stimulus Pemerintah

Memasuki 2026, HSBC Indonesia memproyeksikan prospek kartu kredit travel akan tetap cerah. Meskipun tantangan eksternal seperti fluktuasi geopolitik di Asia Timur tetap ada, namun rekam jejak pertumbuhan yang selalu memecahkan rekor di tahun-tahun sebelumnya menjadi fondasi kuat bagi target pertumbuhan kartu kredit perusahaan di masa depan.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Triana Gunawan Sebagai Komisaris di Bank DBS Indonesia 
Next Post Tingkatkan Pelayanan, Manulife Indonesia Resmikan Kantor Pemasaran Baru di Jakarta Selatan

Member Login

or