1
1

Jangan Asal Pinjam, Ini 4 Momen Tepat Ajukan Pinjaman Usaha!

Ilustrasi. | Foto: Asia Insurance Review

Media Asuransi, JAKARTA – Keputusan mengambil pinjaman bisnis idealnya dilakukan ketika kebutuhan modal meningkat, sementara arus kas usaha masih cukup stabil untuk membayar cicilan secara rutin.

Dalam fase pertumbuhan, pelaku usaha kerap menghadapi berbagai kebutuhan tambahan, mulai dari meningkatkan kapasitas produksi, menambah stok bahan baku, membuka cabang baru, hingga menjaga likuiditas agar operasional tetap berjalan lancar. Situasi seperti ini sering muncul seiring berkembangnya usaha.

Namun, tidak semua kebutuhan tersebut dapat langsung dipenuhi dari modal pribadi atau laba yang sudah dihasilkan. Keterbatasan dana internal kerap membuat rencana ekspansi harus tertunda. Karena itu, tambahan pembiayaan menjadi solusi yang relevan.

Salah satu opsi yang umum dipilih dan relatif aman adalah mengajukan pinjaman usaha ke bank. Melalui dukungan pembiayaan tersebut, pelaku usaha dapat mengeksekusi strategi bisnis tepat waktu tanpa harus menunggu akumulasi modal terlalu lama, sehingga momentum dan peluang pasar tetap terjaga.

|Baca juga: Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global yang Tinggi

|Baca juga: Dewan Ekonomi Nasional Sebut Ketidakpastian Global Takkan Mereda, Bagaimana Nasib RI?

|Baca juga: Bos BRI: Penetapan Premi Asuransi Parametrik Harus Lebih Granular

Waktu yang tepat mengambil pinjaman bisnis bukan saat kepepet, melainkan ketika keputusan tersebut sudah diperhitungkan dengan matang dan memiliki tujuan yang jelas.

Pinjaman idealnya diambil saat bisnis berada dalam kondisi cukup stabil, memiliki arus kas yang relatif sehat, serta sudah ada gambaran jelas bagaimana dana pinjaman akan digunakan dan dikembalikan.

Melansir laman OCBC, Minggu, 22 Februari 2026, berikut ini beberapa pertimbangan yang perlu dicek untuk memastikan apakah bisnismu sudah saatnya mengambil pinjaman atau belum:

1. Arus kas stabil

Pinjaman bisnis paling aman diambil ketika arus kas usaha sudah berjalan stabil dan tidak bergantung pada satu atau dua klien saja. Artinya, pemasukan rutin setiap bulan cukup untuk menutup biaya operasional utama sekaligus menyisakan ruang untuk membayar cicilan.

2. Tujuan pinjaman jelas

Pinjaman yang baik selalu memiliki tujuan yang spesifik dan produktif. Dana pinjaman seharusnya digunakan untuk hal-hal yang dapat menghasilkan nilai tambah, seperti meningkatkan kapasitas produksi, memperluas jangkauan pasar, atau memperbaiki efisiensi operasional.

3. Kemampuan bayar aman

Sebelum mengambil pinjaman, pengusaha perlu menghitung kemampuan bayar secara realistis, termasuk saat kondisi bisnis sedang melambat. Jangan hanya mengandalkan proyeksi yang optimistis.

4. Manajemen siap

Pinjaman menuntut disiplin pengelolaan usaha yang lebih ketat. Pencatatan keuangan harus rapi, arus kas perlu dipantau secara rutin, dan pengambilan keputusan harus lebih terukur.

Jika sistem dan mental pengusaha sudah siap menghadapi komitmen jangka menengah hingga panjang, pinjaman dapat menjadi alat bantu yang efektif untuk mengembangkan bisnis.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Berikut 6 Tips Memilih Asuransi yang Tepat untuk Kamu dan Keluarga
Next Post Penanganan Penyintas Kanker Lansia: Tak Sekadar Panjang Umur tetapi Berkualitas

Member Login

or