1
1

Nasabah Bank Jago Syariah Tembus 2,4 Juta per Desember 2025, Tumbuh 16,5%!

Ilustrasi. | Foto: Bank Jago

Media Asuransi, JAKARTA – Unit Usaha Syariah PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatat jumlah pengguna mendekati 2,4 juta nasabah hingga Desember 2025 atau tumbuh 16,5 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terjadi di tengah masih lebarnya kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia.

Head of Sharia Business Bank Jago Waasi Sumintardja mengatakan peningkatan jumlah pengguna tersebut mencerminkan bertambahnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital berbasis syariah.

“Pencapaian ini mencerminkan semakin tinggi kepercayaan masyarakat terhadap solusi keuangan digital berbasis syariah yang mudah, inovatif, dan kolaboratif,” kata Waasi, dalam Forum Jurnalis Jagoan di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.

Di sisi lain, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan indeks literasi keuangan syariah pada 2025 mencapai 43,42 persen. Namun tingkat inklusinya masih berada di level 13,41 persen. Kondisi ini membuka ruang bagi perbankan syariah, termasuk bank digital, untuk memperluas akses layanan.

|Baca juga: Jelang THR, Nasabah Bank Jago Lebih Banyak Siapkan Kantong Buat Bayar Utang

|Baca juga: Transaksi Sedekah Bank Jago (ARTO) Melonjak 250% di Awal Ramadan 2026, Ini Pemicunya!

Direktur Infrastruktur Ekonomi Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat menilai digitalisasi dapat menjadi salah satu pendorong peningkatan inklusi.

“Sayangnya, survei OJK menunjukkan inklusi keuangan syariah Indonesia baru 13,41 persen. Ini menunjukkan adanya literacy inclusion gap yang signifikan,” ucapnya.

“Ini tantangan sekaligus peluang sebenarnya, terutama buat bank digital seperti Jago Syariah, karena digitalisasi membuat layanan keuangan syariah menjadi lebih mudah diakses, efisien, dan relevan bagi generasi muda, terpenting tetap sesuai prinsip syariah,” tutur Emir.

Dalam operasionalnya, Jago Syariah mengandalkan fitur perencanaan berbasis tujuan atau goal-based saving. Fitur ini dimanfaatkan nasabah untuk mengatur kebutuhan finansial, termasuk perencanaan ibadah. Tercatat lebih dari 40 ribu nasabah menggunakan fitur perencanaan untuk haji dan umrah.

|Baca juga: OJK Ajak Industri Asuransi hingga BPJS Ketenagakerjaan Kembali Ramaikan Pasar Modal

|Baca juga: Konflik Timur Tengah dan Penutupan Selat Hormuz, OJK Soroti Ancaman Inflasi dan Volatilitas Pasar

“Ini memperlihatkan bagaimana perencanaan perjalanan ibadah juga bisa dilakukan dengan mudah, transparan, dan terukur melalui fitur dalam aplikasi digital,” ujar Waasi.

Pada periode Ramadan, perusahaan juga mencatat pola transaksi yang berbeda. Lebih dari 68 persen nasabah melakukan pembayaran zakat dan sedekah pada waktu subuh hingga dhuha. Sementara 53 persen transaksi sedekah dialokasikan untuk anak yatim piatu melalui fitur donasi di aplikasi.

Sementara itu, secara makro, kontribusi sektor halal value chain terhadap produk domestik bruto pada kuartal III/2025 tercatat sebesar 27,34 persen atau Rp4.832 triliun, meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 26,53 persen atau Rp4.368 triliun.

Pertumbuhan sektor halal tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang menopang perkembangan bisnis keuangan syariah, termasuk perbankan digital berbasis syariah.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Transaksi Sedekah Bank Jago (ARTO) Melonjak 250% di Awal Ramadan 2026, Ini Pemicunya!
Next Post AFPI Berharap ‘Kecipratan’ Dana SAL Rp200 Triliun dari Bank Himbara

Member Login

or