Media Asuransi, JAKARTA – PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) atau OCBC membukukan laba bersih sebesar Rp5,1 triliun atau tumbuh sebanyak empat persen secara tahun ke tahun (yoy) di 2025. Torehan itu dengan Return on Equity (ROE) sebesar 12,2 persen.
Direktur OCBC Hartati menjelaskan total penyaluran kredit tumbuh sebanyak dua persen pada 2025 menjadi sebesar Rp173 triliun dengan kualitas kredit yang terjaga. Kondisi itu tercermin dari rasio NPL sebesar 1,9 persen di mana rasio ini lebih rendah dari rata-rata industri perbankan.
|Baca juga: OCBC (NISP) Tebar Dividen Rp1,03 Triliun dan Siap Buyback Saham
|Baca juga: Allianz Syariah Komitmen Hadirkan Perlindungan Inklusif untuk Keluarga Indonesia
“Total simpanan nasabah atau Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 18 persen mencapai Rp244 triliun,” kata Hartati, dalam konferensi pers usai RUPST 2026 OCBC, di OCBC Tower, Jakarta, Kamis, 9 April 2026.
Ia menjelaskan pertumbuhan dana pihak ketiga didukung oleh pertumbuhan giro dan tabungan atau Current Account Saving Account (CASA) yang meningkat 24 persen. Hal itu membuat CASA mencapai 58 persen pada akhir 2025. Terkait struktur permodalan, lanjutnya, terpantau cukup kuat.
“Perseroan memiliki modal yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ke depan yang tercermin pada CAR atau rasio kecukupan modal sebesar 24,5 persen. Pendapatan bunga bersih bank mengalami penurunan di 2025 seiring dengan perlambatan pertumbuhan kredit dan penurunan margin bunga bersih,” jelasnya.
|Baca juga: Biaya Penyakit Katastropik Meroket, BPJS Kesehatan Mulai Kewalahan?
|Baca juga: 99,3% Tercakup JKN, tapi 58 Juta Peserta BPJS Kesehatan Berstatus Tidak Aktif, Ada Apa?
Sementara pendapatan nonbunga pada 2025 mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Hal itu terutama didukung oleh kenaikan dari pendapatan penjualan surat berharga dan juga pendapatan transaksi valuta asing yang dipengaruhi oleh kondisi pasar.
“Efisiensi bank pada 2025 membaik yang tercermin dari Cost-to-Income Ratio atau CPIR dan juga rasio BOPO terjaga di 69,6 persen. Hal ini terutama didukung oleh kenaikan pendapatan nonbunga dan di sisi lain pendapatan biaya operasional meningkat sebesar 1,4 persen,” tukasnya.
Ia menambahkan penyaluran kredit terdiversifikasi pada berbagai sektor ekonomi berdasarkan jenis penggunaannya. Apabila dilihat dari komposisi kredit yang disalurkan untuk sektor produktif mencapai 84 persen yang terdiri dari kredit modal kerja dan kredit investasi masing-masing 41 persen dan 43 persen.
|Baca juga: BI Bakal Setor Sisa Surplus Rp40 Triliun ke Pemerintah, Ini Rinciannya!
|Baca juga: BI Pastikan Stabilitas Rupiah hingga Sistem Keuangan, Ini Dampak Langsung ke ‘Dompet’ Masyarakat
“Sedangkan kredit konsumsi sebesar 16 persen. Bank senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian. Kualitas aset terjaga baik dengan rasio NPL bruto sebesar 1,6 persen dan rasio NPL bersih sebesar 0,8 persen pada akhir 2025,” ucapnya.
Dirinya menjelaskan OCBC telah mengalokasikan cadangan kerugian penurunan nilai kredit yang memadai yaitu dengan provision coverage ratio sebesar 226 persen pada akhir 2025. Sementara pertumbuhan giro sebesar 41 persen di 2025 dikontribusikan oleh penempatan dana nasabah yang belum digunakan.
“Sehingga rasio CASA naik menjadi 58 persen. Pertumbuhan dana pihak ketiga yang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan kredit di 2025 telah mengakibatkan loan to deposit ratio atau LDR turun menjadi 70,4 persen,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
