Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kinerja intermediasi perbankan masih menunjukkan tren positif pada awal 2026, meskipun laju pertumbuhan kredit mulai mengalami perlambatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan perkembangan perbankan hingga akhir Februari tetap berada dalam kondisi stabil dengan profil risiko yang terjaga.
|Baca juga: OJK Sebut Potensi Ekonomi Syariah di Indonesia Besar, tapi Belum Maksimal
|Baca juga: Tumbuh di Tengah Tekanan Global, OJK Catat Aset Keuangan Syariah Capai Rp3.100 Triliun di 2025
“Kinerja intermediasi perbankan masih tetap tumbuh positif dengan profil risiko yang tetap terjaga,” ujar Dian, dalam konferensi pers Hasil RDKB OJK, Senin, 6 April 2026.
Berdasarkan data OJK, pertumbuhan kredit pada Februari 2026 tercatat sebesar 9,37 persen secara tahunan menjadi Rp8.559 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan Januari 2026 yang mencatat pertumbuhan sebesar 9,96 persen.
“Pada Februari 2026, kredit tumbuh sebesar 9,37 persen year on year menjadi sebesar Rp8.559 triliun, meningkat dibandingkan dengan posisi Januari 2026 yang tumbuh 9,96 persen,” ujar Dian.
Meski melambat, OJK menilai fungsi intermediasi perbankan masih berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit yang tetap berada di level positif dengan distribusi yang cukup merata di berbagai segmen.
|Baca juga: Penguatan Ekonomi Syariah Difokuskan Lewat UMKM dan Koperasi Desa
|Baca juga: Prediksi IHSG dan 6 Rekomendasi Saham Pilihan di Awal Pekan
Jika dilihat berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 20,72 persen. Sementara itu, dari sisi kategori debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 14,74 persen secara tahunan.
Dari sisi kepemilikan bank, kelompok bank BUMN menjadi kontributor utama pertumbuhan kredit dengan angka mencapai 12,78 persen secara tahunan.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan sebesar 13,18 persen secara tahunan menjadi Rp10.102 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan pada giro sebesar 18,56 persen, deposito sebesar 13 persen, serta tabungan sebesar 8,12 persen.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
