1
1

Outlook Fitch Bank BUMN Negatif, Ekonom CELIOS Beberkan Langkah yang Perlu Diambil Pemerintah

Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda. | Foto: LinkedIn Nailul Huda

Media Asuransi, JAKARTA – Pemerintah didorong memperbaiki pengelolaan anggaran negara setelah sejumlah lembaga pemeringkat internasional menurunkan outlook terhadap sektor keuangan Indonesia. Perbaikan tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap kondisi fiskal nasional.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat seperti Fitch dan Moody’s berkaitan erat dengan pengelolaan anggaran negara, khususnya terkait belanja pemerintah.

“Sebenarnya kalau outlook-outlook terutama yang terakhir ya, yang Fitch sama Moody’s itu kan terkait sama pengelolaan APBN, belanja kan,” ujar Huda, di Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.

|Baca juga: Seng Hyup Shin Mundur dari Kursi Wakil Komisaris Utama KB Bank (BBKP), Ada Apa?

|Baca juga: Berikut Kegiatan Operasional BI saat Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026

Ia menilai pemerintah perlu memastikan anggaran negara digunakan untuk kegiatan yang benar-benar produktif, bukan program yang dinilai terlalu ambisius. “Kalau kayak gitu jawabannya pasti bagaimana belanja bisa dimanfaatkan betul untuk belanja produktif dan sebagainya. Tidak belanja yang sifatnya program yang ambisius,” ujarnya.

Menurut Huda, kekhawatiran lembaga pemeringkat juga berkaitan dengan potensi pelebaran defisit anggaran apabila penerimaan negara tidak cukup kuat untuk menutup besarnya belanja pemerintah. Ia menjelaskan tanpa dukungan faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak, defisit anggaran berpotensi meningkat pada tahun mendatang.

“Karena kita lihat tanpa adanya kemarin harga minyak yang naik gitu kan, untuk di 2026 itu penerimaan negara akan shortfall, belanja kita banyak, dan defisit kita bisa lebih di angka 2,7 persen sampai 2,8 persen,” terang Huda.

Selain itu, ia menyoroti risiko yang muncul apabila minat investor terhadap surat utang negara melemah. Kondisi tersebut dapat mempersulit pemerintah dalam memperoleh pembiayaan. “Nah, bond ini ketika undersubscribed itu cukup berbahaya. Karena bagaimanapun juga itu sumber pembiayaan kita,” jelasnya.

|Baca juga: 7 Asuransi dan Reasuransi Masuk Pengawasan Khusus, OJK Soroti RBC dan Permodalan sebagai Biang Kerok

Huda menambahkan pemerintah dihadapkan pada dilema antara menjaga stabilitas fiskal atau mendorong pertumbuhan ekonomi. Kenaikan suku bunga, misalnya, dapat membantu menarik investor, tetapi di sisi lain berpotensi menekan aktivitas ekonomi.

“Jadi memang akan ada kontradiktif, apakah menyelamatkan terkait fiskal atau mempercepat pertumbuhan ekonomi,” kata Huda.

Sebelumnya, Fitch Ratings merevisi outlook peringkat jangka panjang dalam mata uang asing (Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating/IDR) empat bank BUMN menjadi negatif dari sebelumnya stabil.

Keempat bank tersebut yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, serta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indo Eximbank).

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Ekonom CELIOS Ungkap Penyebab Fitch Turunkan Outlook Bank BUMN
Next Post Antam dan Merdeka Group Teken MoU untuk Perkuat Kedaulatan Emas Nasional

Member Login

or