Media Asuransi, JAKARTA – PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) atau OCBC buka suara terkait adanya sinyal bahwa Bank Indonesia (BI) kemungkinan tidak akan menurunkan suku bunga acuan pada tahun ini. Hal itu sejalan dengan ketidakpastian yang terus terjadi terutama akibat konflik di Timur Tengah.
“BI memang memprioritaskan stabilitas TFX, apakah dengan begitu sepertinya kemungkinan untuk penurunan suku bunga lebih lanjut akan tertunda? Memang sudah ada message seperti itu,” kata Direktur OCBC NISP Johannes Husin, dalam konferensi pers usai RUPST 2026 OCBC, di OCBC Tower, Jakarta, Kamis, 9 April 2026.
|Baca juga: OCBC (NISP) Tebar Dividen Rp1,03 Triliun dan Siap Buyback Saham
|Baca juga: Allianz Syariah Komitmen Hadirkan Perlindungan Inklusif untuk Keluarga Indonesia
Meski demikian, ia menekankan, yang perlu dilihat sekarang ini adalah kondisi likuiditas perbankan terbilang baik. Akan tetapi, dirinya mengatakan, penurunan suku bunga lebih lanjut juga terpengaruh dari suku bunga acuan di negara maju seperti di Amerika Serikat (AS) yang biasanya menjadi acuan.
“Kita juga harus melihat sekali lagi bahwa kondisi saat ini sangat likuid. Penurunan suku bunga sejak 2024 sudah diharapkan, lebih banyak lagi di 2025 tidak kejadian. Karena suku bunga dari mata uang seluruh dunia itu masih mengacu melihat pergerakan suku bunga di Amerika juga sebagai benchmark,” ucapnya.
Dengan inflasi yang cukup tinggi di Amerika Serikat dan diperparah oleh konflik Timur Tengah yang imbasnya menaikkan harga minyak, ia menjelaskan, maka keputusan yang terbaik pada kondisi seperti itu adalah menjaga tingkat inflasi di dalam negeri tetap terkendali.
|Baca juga: Biaya Penyakit Katastropik Meroket, BPJS Kesehatan Mulai Kewalahan?
|Baca juga: 99,3% Tercakup JKN, tapi 58 Juta Peserta BPJS Kesehatan Berstatus Tidak Aktif, Ada Apa?
“Memang saat ini suku bunga secara kurva itu boleh dibilang agak lumayan sehat ya, karena suku bunga jangka pendek dijaga untuk memastikan ekonomi bisa bergerak dengan suku bunga yang reasonable, yang masuk akal,” tukasnya.
Sedangkan untuk kurva yang agak panjang, tambahnya, memang mengalami koreksi di awal tahun ini. “Sekali lagi karena memang situasi pasar yang kurang kondusif saat ini. Kita lihat ini sebagai situasi di mana dari sisi valas, di mana impor kita juga minyak masih banyak, ekspor kita juga terakhir ini agak kurang,” katanya.
|Baca juga: BI Bakal Setor Sisa Surplus Rp40 Triliun ke Pemerintah, Ini Rinciannya!
|Baca juga: BI Pastikan Stabilitas Rupiah hingga Sistem Keuangan, Ini Dampak Langsung ke ‘Dompet’ Masyarakat
“Kalau lihat dari sini semua memang yang paling baik adalah memastikan valas terkendali, stabil dengan level yang bisa memberikan business opportunity, kesempatan untuk eksportir dan importir juga. Dan kita sudah tahu akhir-akhir ini juga Bank Indonesia sudah sangat lebih sigap mengintervensi market dari pagi sampai sore,” tambahnya.
Lebih lanjut, dirinya berharap, ketidakpastian yang sedang terjadi bisa secepatnya selesai sehingga setiap negara termasuk Indonesia bisa fokus terhadap perbaikan ekonomi terutama memacu pertumbuhan. Jika itu terjadi bukan tidak mungkin berdampak positif terhadap industri perbankan.
“Kita berharap situasi yang saat ini sedang berkelanjutan bisa secepatnya selesai. Jadi semua negara bisa berfokus ke kondisi makro masing-masing, di mana kalau misalnya itu sudah selesai, kondisi makro kita akan menginginkan sebenarnya untuk suku bunga yang lebih rendah,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
