1
1

Asuransi Asia Pasifik Dinilai Masih Kuat Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah

Ilustrasi. | Foto: Insurance Asia/Vlad Deep from Unsplash

Media Asuransi, GLOBAL – Perusahaan asuransi di kawasan Asia Pasifik dinilai masih memiliki modal yang cukup untuk menghadapi tekanan akibat konflik di Timur Tengah. Hal ini disampaikan S&P Global Ratings dalam laporan terbarunya.

Melansir laman Asia Insurance Review, Senin, 30 Maret 2026, dalam skenario dasar, S&P menilai dampak konflik belum terlalu mengganggu kondisi keuangan perusahaan asuransi. Namun, ketidakpastian geopolitik dan perubahan kebijakan perdagangan bisa memicu gejolak di pasar keuangan yang berisiko mengurangi kekuatan modal mereka.

Analis S&P Philip Chung menyebut gangguan rantai pasok dan meningkatnya ketegangan geopolitik bisa mendorong kenaikan harga barang, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan membuat pasar keuangan menjadi tidak stabil. Selain itu, perbedaan suku bunga dan risiko nilai tukar juga bisa memengaruhi kondisi keuangan perusahaan.

Perlambatan ekonomi dan menurunnya kemampuan belanja masyarakat juga berpotensi menekan permintaan asuransi, baik dari individu maupun pelaku usaha. Kondisi ini dapat berdampak pada pendapatan dan keuntungan perusahaan asuransi.6

S&P juga menyoroti sejumlah risiko lain yang perlu diperhatikan, seperti perubahan iklim yang bisa membuat beberapa wilayah tidak lagi bisa diasuransikan.

|Baca juga: Jahja Setiaatmadja Borong 802.056 Saham BCA (BBCA)

|Baca juga: Ramadan Dorong Konsumsi, Flip Perkuat Transaksi Belanja Online Lewat Flip Deals

|Baca juga: Funding Korporasi Bank Mega Syariah Capai Rp5,9 Triliun di 2025

Meski investasi perusahaan asuransi di kredit swasta masih terbatas, namun tekanan di pasar global tetap bisa berdampak ke kawasan Asia Pasifik. Sementara itu, kenaikan biaya kesehatan dinilai masih bisa diatasi dengan penyesuaian harga premi.

Di sisi lain, kondisi ini akan menguji kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko dan menjaga kekuatan modal, terutama bagi yang memiliki investasi luar negeri tanpa perlindungan nilai tukar. Gejolak pasar keuangan juga diperkirakan dapat menekan kinerja keuntungan.

Sementara perusahaan asuransi di Jepang diperkirakan memanfaatkan keuntungan dari penjualan saham domestik serta cadangan yang dimiliki untuk menjaga stabilitas laba di tengah potensi kerugian dari penjualan obligasi.

Tekanan terhadap keuntungan juga diperkirakan meningkat. Upaya mencari imbal hasil yang lebih tinggi bisa mendorong perusahaan masuk ke investasi yang lebih berisiko. Selain itu, kenaikan biaya kesehatan dapat membuat premi semakin mahal.

Gangguan rantai pasok juga dapat meningkatkan biaya operasional dan klaim. Jika penyesuaian harga tidak sejalan dengan kenaikan klaim maka keuntungan dari kegiatan penjaminan asuransi berpotensi menurun.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Begini Respons OJK tentang Putusan KPPU di Dugaan Kasus Kartel Suku Bunga Pindar
Next Post Biaya Klaim Asuransi di Australia Masih Tinggi pada 2026, Ini Alasannya!

Member Login

or