Media Asuransi, JAKARTA – Saat ini penggunaan Artificial Intelligence (AI) di lingkungan kerja terus meningkat untuk membantu menyusun laporan, menganalisis data, hingga mempercepat pembuatan konten.
Tak bisa dipungkiri bahwa AI memang membawa efisiensi yang nyata. Survei penggunaan AI di tempat kerja menunjukkan bahwa 27 persen pekerja mampu menghemat lebih dari 9 jam kerja per minggu berkat pemanfaatan teknologi ini. Angka tersebut menggambarkan potensi besar AI dalam membantu pekerja mengelola waktu dan beban kerja secara lebih efektif.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul risiko baru yang jarang dibicarakan secara terbuka. Ketika AI semakin mudah diakses, ada kecenderungan untuk menggunakannya sebagai jalan pintas dengan mengandalkan kecepatan, tanpa benar-benar memikirkan arah. Budaya “shortcut thinking” inilah yang jika dibiarkan, justru berisiko menurunkan kualitas analisis dan pengambilan keputusan.
|Baca juga: Studi F5: 75% Korporasi Adopsi Sistem Artificial Intelligence
Allianz Indonesia dalam diskusi Ngobrol Bareng Allianz Citizens (NgobrAZ) bertajuk “AI Yes, Shortcut No: Cara Cerdas Pakai AI di Dunia Kerja” menghadirkan Abi Mangku Nagari sebagai AI Implementation Consultant.
“Diskusi ini menjadi pengingat bahwa produktivitas tidak diukur dari seberapa cepat pekerjaan selesai, melainkan dari seberapa tepat keputusan diambil dan seberapa kuat fondasi berpikir di baliknya,” ujar Head of Corporate Communications Allianz Indonesia Wahyuni Murtiani, dalam keterangannya, Kamis, 29 Januari 2026,.
|Baca juga: Artificial Intelligence Jadi Ancaman Baru di Kasus Penipuan Klaim Asuransi
Diskusi ini mengajak karyawan memahami peran AI sebagai alat bantu yang memperkuat struktur berpikir, kualitas analisis, dan akuntabilitas kerja, bukan diposisikan sebagai pengganti cara berpikir manusia.
Abi Mangku Nagari menilai bahwa tantangan utama dalam adopsi AI di dunia kerja saat ini bukan terletak pada teknologinya. Tantangan terbesar dari adopsi AI di dunia kerja bukan pada kecanggihan AI, tetapi pada mindset penggunanya. Ketika AI diposisikan sebagai jalan pintas, kualitas berpikir dan rasa tanggung jawab justru bisa menurun.
|Baca juga: Allianz Indonesia Menunjuk AllianzGI Indonesia sebagai Manajer Investasi
“AI sering dianggap pintar karena jawabannya cepat. Padahal, nilai sebenarnya muncul ketika pekerja memahami cara membingkai masalah, menguji output, dan mengambil keputusan secara sadar,” ujar Abi.
Dalam praktiknya, AI akan memberikan dampak paling optimal ketika diposisikan sebagai alat bantu berpikir, bukan sebagai auto-pilot yang mengambil alih kendali.
Untuk itu, terdapat lima prinsip sederhana namun krusial yang dapat menjadi pegangan agar pemanfaatan AI tetap produktif tanpa terjebak pada shortcut thinking.
Yakni: mulai dari problem framing, bukan sekadar prompting. Kedua, gunakan AI untuk menyusun struktur berpikir, bukan menghasilkan kesimpulan. Ketiga, alihkan beban tugas berulang pada AI. keempat, posisikan AI sebagai co-pilot yang bisa diajak berdialog dan kelima, akhiri setiap proses dengan human judgment.
Editor : Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
