1
1

Artificial Intelligence Jadi Ancaman Baru di Kasus Penipuan Klaim Asuransi

Ilustrasi. | Foto: Freepik

Media Asuransi, GLOBAL – Dalam laporan Global Forecast 2024 milik firma hukum Kennedys disebutkan risiko geopolitik akibat deglobalisasi yang didorong oleh lanskap geopolitik saat ini tengah menjadi ancaman bagi industri asuransi.

Selain itu, salah satu risiko baru yang dihadapi perusahaan asuransi adalah gambar palsu yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang diajukan sebagai bukti dalam klaim penipuan.

Faktor-faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), seperti hilangnya keanekaragaman hayati, juga diakui sebagai kekhawatiran yang semakin meningkat bagi perusahaan asuransi. Laporan Kennedys mengatakan kinerja AI jika digunakan untuk hal yang tidak baik dapat menyebabkan contoh-contoh klaim sebagai berikut:

  • Kerusakan properti: Robot pembersih gudang menyebabkan kebakaran atau banjir dengan memasukkan kain basah ke dalam soket colokan listrik.
  • Cedera pribadi atau cedera tubuh: Mobil swakemudi gagal memerhitungkan pejalan kaki yang sedang berjalan kaki, sehingga menyebabkan kematian pejalan kaki.
  • Kerusakan reputasi: Bot percakapan cerdas, yang dimaksudkan mempromosikan merek perusahaan, mengalami kegagalan fungsi dan menimbulkan perhatian daring yang negatif.
  • Malapraktik medis: Sistem AI yang tidak berfungsi mengakibatkan kesalahan diagnosis selama pemeriksaan medis.
  • Keamanan siber: Chatbot AI yang digunakan oleh bank diretas, sehingga menyebabkan transaksi yang tidak sah.
  • Penipuan: Konten digital deepfake yang dihasilkan oleh AI digunakan untuk mendukung klaim penipuan.
  • Diskriminasi dalam perekrutan: Bias yang tidak disengaja dalam algoritma AI menyebabkan seleksi pelamar yang diskriminatif.
  • Transaksi sekuritas: Perusahaan dapat menghadapi investigasi dan denda karena menggunakan alat bantu AI yang memanipulasi pasar sekuritas secara tidak sah.

“Sebagai contoh, meskipun asuransi siber biasanya mencakup kebocoran data, asuransi ini biasanya tidak mencakup kerugian fisik, kerusakan merek, atau kerusakan properti fisik, yang dapat terjadi akibat kejadian yang sama,” kata Kennedys.

Untuk Asia Pasifik, serangan siber atau isu-isu terkait, inflasi, dan otomatisasi diidentifikasi sebagai potensi ancaman klaim di masa depan.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bumi Serpong Damai (BSDE) Incar Marketing Sales Rp9,50 Triliun pada 2024
Next Post Indomobil Akan Pasarkan Kendaraan Bermotor Merek Foton

Member Login

or