Media Asuransi, GLOBAL – Ketegangan geopolitik dan gangguan pada rantai pasokan akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah diperkirakan memberikan tekanan atau dampak pada sektor asuransi Asia Pasifik (APAC) hingga 2026.
Laporan Kondisi Kredit Kuartal II/2026 dari S&P Global Ratings menyebutkan meski perusahaan asuransi di kawasan APAC umumnya mempertahankan cadangan modal yang cukup untuk menyerap tekanan yang ada, tapi konflik berkepanjangan dapat mengikis upaya perlindungan ini dengan memicu inflasi dan meningkatkan volatilitas pasar.
Melansir Insurance Asia, Selasa, 31 Maret 2026, permasalahan rantai pasokan dan kenaikan biaya energi akan tetap menjadi risiko utama terhadap perkiraan dasar perekonomian.
|Baca juga: Perdalam Pasar Keuangan dan Jaga Rupiah, BI Implementasikan Instrumen Baru di Operasi moneter
|Baca juga: Jajaran Petinggi BCA Kompak Borong Saham BBCA untuk Investasi Jangka Panjang
Faktor-faktor tersebut mengancam peningkatan biaya operasional dan biaya klaim perusahaan asuransi, utamanya jika penyesuaian harga gagal mengimbangi memburuknya pengalaman klaim.
Selain itu, jika terjadi perlambatan ekonomi yang meluas juga dapat mengurangi permintaan asuransi baik dari rumah tangga maupun dunia usaha. Sehingga hal ini berpotensi mengurangi margin keuntungan di seluruh industri.
Di sisi lain, volatilitas pasar keuangan dan posisi valuta asing yang tidak dilindungi nilai akan menguji ketahanan neraca para pemain regional. Sedangkan perusahaan asuransi dengan investasi luar negeri yang signifikan menghadapi peningkatan tekanan pendapatan, meskipun beberapa pasar mempunyai penyangga khusus.
Misalnya, perusahaan asuransi Jepang diperkirakan menggunakan keuntungan yang belum direalisasi dari penjualan ekuitas dalam negeri dan cadangan fluktuasi harga untuk mengimbangi potensi kerugian dari penjualan obligasi dalam negeri.
|Baca juga: Funding Korporasi Bank Mega Syariah Capai Rp5,9 Triliun di 2025
|Baca juga: OJK Sebut Ketegangan Geopolitik Picu Risiko di Industri Asuransi Umum Melonjak
Lebih jauh, meskipun perusahaan asuransi di Asia Pasifik saat ini memiliki modal untuk mengelola situasi geopolitik, namun prospeknya masih sensitif terhadap durasi konflik.
Namun, perubahan kebijakan perdagangan yang berkelanjutan dan ketidakpastian geopolitik dapat memperkuat perubahan pasar, menjadikan kemampuan manajemen risiko sebagai pembeda penting bagi perusahaan di tahun mendatang.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
