1
1

Ketegangan Timur Tengah Ancam Perdagangan dan Tekan Kinerja Asuransi

Meningkatnya serangan militer di Timur Tengah memicu kenaikan biaya asuransi pengiriman, penangguhan penerbangan, dan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz. | Foto: Shutterstock

Media Asuransi, GLOBAL – Ketegangan di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran berpotensi mengganggu arus perdagangan global dan membebani perekonomian India.

Konflik tersebut diperkirakan mendorong kenaikan biaya logistik dan asuransi pengiriman yang memicu keterlambatan distribusi barang, serta mengerek harga minyak dunia yang pada akhirnya meningkatkan tagihan impor India.

Melansir The Economic Times, Senin, 2 Maret 2026, risiko terbesar muncul setelah Iran dilaporkan menutup lalu lintas di Selat Hormuz, jalur sempit selebar sekitar 33 kilometer yang menjadi penghubung Teluk Persia dan Laut Arab.

Sekitar 35-50 persen impor minyak mentah India serta sebagian besar pasokan gas alam cair (LNG) dari Irak, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar melewati jalur tersebut. Gangguan di titik strategis ini berpotensi menaikkan tarif pengangkutan dan premi asuransi, sekaligus mendorong lonjakan harga energi global.

Dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan India, melainkan juga ekonomi global. Hampir seperlima pasokan minyak dunia dan sebagian besar perdagangan LNG internasional melintasi Selat Hormuz, dengan mayoritas pengiriman menuju negara-negara Asia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

|Baca juga: Perusahaan Asuransi Maritim Berencana Menyesuaikan Polis di Timur Tengah

Kenaikan harga minyak bahkan diproyeksikan dapat menembus kisaran US$120–130 per barel jika ketegangan berlanjut, sehingga berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan dan memicu tekanan inflasi di India.

Sebagai langkah antisipasi, kilang-kilang di India berpotensi mengalihkan pasokan melalui jaringan pipa menuju pelabuhan di Laut Merah, meningkatkan pembelian dari Rusia, AS, Afrika Barat, dan Amerika Latin, serta memanfaatkan cadangan minyak strategis. Namun opsi tersebut dinilai meningkatkan biaya dan waktu pengiriman.

Di sisi perdagangan, India memiliki keterkaitan kuat dengan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain. Meski perdagangan dengan Iran menurun akibat sanksi Barat, hubungan dagang India dengan negara-negara GCC menunjukkan pertumbuhan.

Pada tahun fiskal 2024-2025, ekspor India ke kawasan itu naik sekitar satu persen menjadi US$57 miliar, sedangkan impor meningkat 15,33 persen menjadi US$121,7 miliar. Total perdagangan bilateral mencapai US$178,7 miliar, naik dari US$161,82 miliar pada tahun sebelumnya.

Ketidakpastian geopolitik juga mengganggu jalur logistik internasional. Rute pelayaran melalui Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb menghadapi risiko lebih tinggi, sehingga kapal berpotensi dialihkan melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Perubahan jalur menambah waktu pengiriman 15–20 hari untuk tujuan Eropa dan Amerika Serikat.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, kinerja perdagangan India menunjukkan pelemahan. Pada Januari, ekspor hanya tumbuh 0,61 persen menjadi US$36,56 miliar, sementara impor melonjak 19,2 persen menjadi US$71,24 miliar yang didorong oleh kenaikan harga emas dan perak.

Kondisi itu menyebabkan defisit perdagangan melebar ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, yakni US$34,68 miliar. Jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut, tekanan terhadap biaya impor energi, inflasi, dan stabilitas perdagangan India diperkirakan semakin besar.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Berbagi di Bulan Suci, Maybank Salurkan Bantuan Rp1,98 Miliar
Next Post BTN (BBTN) Bidik Bisnis Wealth Management Naik 15% di 2026, Ini Strateginya!

Member Login

or