Media Asuransi, JAKARTA – Tradisi mudik telah menjadi fenomena sosial tahunan masyarakat Indonesia yang begitu mengakar, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri (lebaran). Jutaan masyarakat berbondong-bondong kembali ke kampung halaman, demi bersilaturahmi dengan orang tua, keluarga dan kerabat.
Lebih dari perjalanan fisik, mudik mencerminkan kerinduan, penghormatan kepada asal-usul, serta merawat ikatan kekeluargaan. Bagaimana perspektif Islam memandang tradisi mudik di Indonesia ini, simak penjelasan Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) PT Sompo Insurance Indonesia (Sompo Indonesia), A. Riawan Amin, berikut ini.
Secara prinsip, mudik bukanlah kewajiban agama, melainkan tradisi sosial-budaya yang hidup di tengah masyarakat. Tidak ada dalil khusus yang memerintahkan mudik saat Lebaran. “Namun mudik kerap menjadi sarana untuk menghidupkan nilai-nilai Islam yang sangat dianjurkan, yaitu birrul walidain dan silaturahmi,” kata Riawan dalam keterangan tertulis yang dikutip Senin, 2 Maret 2026.
|Baca juga: Ini Tips dari Sompo Insurance untuk Pilih Asuransi Kendaraan Bermotor
Birrul walidain berarti berbakti, berbuat baik, taat dan menghormati kedua orang tua. Kedudukannya sangat tinggi dalam Islam, bahkan kerap disebut setelah perintah menyembah Allah.
Namun, menurut Riawan, birrul walidain tidak harus selalu diwujudkan dengan mudik. “Jika kondisi kesehatan, keselamatan, atau ekonomi tidak memungkinkan, bakti tetap dapat diwujudkan melalui perhatian, doa, komunikasi, dan bantuan sesuai kemampuan,” jelasnya.
Demikian pula dengan silaturahmi. Islam menganjurkan menjaga hubungan keluarga, tetapi pelaksanaannya dapat menyesuaikan situasi. Dalam konteks manajemen kehidupan, kita mengenal konsep benefit dan cost (manfaat dan risiko).
Mudik membawa banyak manfaat yakni kebahagiaan, kehangatan, dan kedekatan keluarga, namun juga memiliki risiko seperti kelelahan, kemacetan, kecelakaan, dan beban finansial. Karena itu, keputusan mudik perlu mempertimbangkan manfaat dan mudaratnya secara bijak.
|Baca juga: Tips dari Sompo Insurance Supaya Menikmati Liburan Panjang dengan Nyaman dan Aman
Riawan menambahkan bahwa Surat Al-Hasyr Ayat 18 berbunyi, Waltandhur nafsum ma qaddamat lighad. Dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).
Ayat ini mengandung pesan perencanaan dan kehati-hatian. Ketika hendak mudik, lakukan dengan persiapan matang: pilih waktu dan jalur yang aman, jaga kondisi fisik, siapkan anggaran secukupnya tanpa memberatkan diri dan keluarga, serta kelola keuangan dengan bijak agar tidak sampai berutang setelah pulang mudik.
|Baca juga: PELNI Kembali Hadirkan Mudik Gratis Bersama BUMN 2026
Dia tegaskan, mempertimbangkan pelindungan seperti asuransi perjalanan juga termasuk bentuk ikhtiar untuk mengantisipasi risiko tak terduga. “Yang terpenting, utamakan keselamatan daripada kecepatan. Ikhtiar menjaga diri (keselamatan/kesehatan) dan berasuransi merupakan wujud nyata tawakal, yaitu berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan usaha maksimal,” kata Riawan.
Nilai ibadah dari mudik bukan terletak pada perjalanannya semata, melainkan pada niat dan kemaslahatan yang dihadirkannya. Niat untuk berbakti dan menyambung kasih sayang dengan keluarga jika dilakukan dengan bijak, maka hal ini dapat menjadi ladang pahala.
“Namun jika tidak memungkinkan, Islam tetap memberi ruang untuk berbuat baik tanpa memberatkan, karena yang utama adalah ketulusan niat dan tanggung jawab dalam setiap langkah,” tuturnya.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
