1
1

Para CEO Perusahaan Asuransi Dorong Penggunaan AI, Ternyata Ini Alasannya!

Ilustrasi. | Foto: Goldendayz from Envato

Media Asuransi, GLOBAL – Mayoritas Chief Executive Officer (CEO) dari perusahaan asuransi mengaku tetap optimistis meskipun adanya ketidakpastian ekonomi, risiko iklim, dan perubahan teknologi yang cepat. Sebesar 82 persen dari mereka mengatakan keyakinannya dengan pertumbuhan perusahaan mereka.

Angka tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan 2024 sebesar 74 persen, sementara 78 persen lainnya yakin dengan industri secara keseluruhan. Hal tersebut diungkapkan berdasarkan Outlook CEO Asuransi 2025 KPMG International.

Melansir Insurance Asia, Senin, 30 Maret 2026, KPMG mengatakan perusahaan asuransi di India berfokus pada tata kelola, kepatuhan terhadap peraturan, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja seiring mereka memperluas penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan alat digital.

|Baca juga: Perdalam Pasar Keuangan dan Jaga Rupiah, BI Implementasikan Instrumen Baru di Operasi moneter

|Baca juga: CUAN, DSNG, UNTR, dan AMRT Jadi Saham Dijagokan untuk Jemput Rezeki Hari Ini

Laporan tersebut mencatat investasi di bidang teknologi, sumber daya manusia, dan kemitraan akan menjadi kunci untuk mempertahankan daya saing seiring dengan terus berkembangnya industri ini.

Survei yang dilakukan berdasarkan dari tanggapan sebanyak dari 110 CEO asuransi di seluruh perusahaan asuransi jiwa, non-jiwa, reasuransi, dan komposit di seluruh dunia. Ini mencakup perusahaan yang beroperasi di segmen seperti otomotif, rumah, properti dan kecelakaan, kesehatan, reasuransi, dan pialang asuransi.

Pada saat yang sama, sebesar 83 persen responden mengidentifikasi kejahatan dunia maya sebagai ancaman terbesar terhadap pertumbuhan selama tiga tahun ke depan.

Namun, AI tetap menjadi prioritas utama di seluruh sektor ini, sekitar 73 persen CEO menempatkannya sebagai bidang investasi teratas, dengan 67 persen berencana mengalokasikan 10-20 persen anggaran mereka untuk AI, analitik, otomatisasi, dan AI generatif.

|Baca juga: Funding Korporasi Bank Mega Syariah Capai Rp5,9 Triliun di 2025

|Baca juga: OJK Sebut Ketegangan Geopolitik Picu Risiko di Industri Asuransi Umum Melonjak

Selain itu, survei ini juga mencatat sekitar 67 persen lainnya mengharapkan keuntungan dari investasi ini dalam satu hingga tiga tahun, dibandingkan dengan 21 persen pada 2024. Namun, tantangan dinilai masih tetap ada, sekitar 83 persen CEO mengatakan kesiapan tenaga kerja dan kesenjangan keterampilan membatasi adopsi AI.

Sekitar 56 persen lainnya menyebutkan permasalahan etika, 51 persen menyebutkan masalah kesiapan data, dan 77 persen mengatakan peraturan dapat memperlambat implementasi.

Merger dan akuisisi juga diperkirakan terus berlanjut, dengan separuh CEO mengantisipasi kesepakatan yang berdampak besar dan 41 persen mengharapkan aktivitas yang moderat selama tiga tahun ke depan.

|Baca juga: Jahja Setiaatmadja Borong 802.056 Saham BCA (BBCA)

|Baca juga: Ramadan Dorong Konsumsi, Flip Perkuat Transaksi Belanja Online Lewat Flip Deals

Lebih jauh, keberlanjutan menjadi bagian inti dari strategi bisnis. Sekitar 72 persen perusahaan asuransi mengatakan keberlanjutan kini tertanam dalam operasi mereka, dengan 81 persen meningkatkan pelaporan ESG, dan 77 persen memperkuat pemodelan risiko iklim.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bank Mandiri (BMRI) Salurkan KUR Rp7,35 Triliun hingga Februari 2026
Next Post Konsep Tanggung Jawab Absolut Dinilai Keliru, Bos AIA Dorong Sistem Baru yang Lebih Adil di Industri Asuransi

Member Login

or