Media Asuransi, GLOBAL – Financial Times melaporkan perusahaan asuransi maritim sedang mempertimbangkan untuk membatalkan atau menyesuaikan harga polis di Timur Tengah. Hal ini terjadi setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Para broker asuransi maritim memperkirakan premi asuransi untuk kapal akan naik hingga 50 persen, mengingat klasifikasi kawasan tersebut sebagai zona perang. Pemilik kapal sedang mempertimbangkan untuk mengubah rute kapal mereka untuk menghindari Selat Hormuz dan mengurangi risiko bagi awak kapal dan kargo.
Sebanyak 20 persen dari pasokan minyak global melewati Selat Hormuz. Mengenai harga minyak, kenaikan diperkirakan terjadi karena 20 persen dari pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, di tengah kekhawatiran tentang ketegangan yang terus berlanjut di kawasan tersebut.
Melansir Arab News, Senin, 2 Maret 2026, lalu lintas udara di Timur Tengah sangat terganggu setelah beberapa negara menutup wilayah udara mereka sepenuhnya atau sebagian, sementara maskapai penerbangan regional dan internasional menangguhkan atau menjadwal ulang penerbangan.
|Baca juga: Ketua PAI Sebut Timur Tengah Kagum dengan Kemajuan Industri Asuransi Syariah Indonesia
|Baca juga: Bos PAI: Minat Masyarakat untuk Berkarier di Sektor Syariah Sangat Tinggi
Pada pagi hari 1 Maret, Ibu Kota Iran, Teheran, menyaksikan beberapa ledakan besar setelah Israel mengumumkan apa yang mereka gambarkan sebagai ‘serangan pendahuluan’. Dalam pesan video, Presiden AS Donald Trump mengumumkan AS telah memulai operasi tempur besar-besaran di Iran.
Hal itu dengan menegaskan tujuannya adalah untuk membela rakyat Amerika dengan menetralisir apa yang ia gambarkan sebagai ‘ancaman yang akan segera terjadi’ dari rezim Iran. Bahkan, beberapa maskapai penerbangan regional dan internasional mengumumkan penangguhan penerbangan mereka ke beberapa negara di kawasan.
Perkembangan militer ini terjadi pada saat perusahaan pelayaran besar telah menghindari rute Laut Merah dan Terusan Suez karena ketegangan keamanan, dan kembali ke rute Tanjung Harapan, yang meningkatkan biaya pengiriman dan memberikan tekanan pada rantai pasokan global.
Dengan ditutupnya wilayah udara di beberapa negara di kawasan ini, risiko gangguan terhadap lalu lintas udara dan perdagangan semakin meningkat, sementara pasar minyak mencermati setiap tanda-tanda potensi gangguan pasokan dari kawasan yang merupakan salah satu pusat produksi energi terpenting di dunia.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
