Media Asuransi, GLOBAL – Jalur maritim penting Selat Hormuz dilaporkan ditutup untuk pelayaran internasional. Hal itu menyusul eskalasi militer pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang menyebabkan Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran, dan serangan balasan di seluruh wilayah Gulf Cooperation Council (GCC).
Melansir Gasworld, Selasa, 3 Maret 2026, sebelumnya media Pemerintah Iran melaporkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas akibat serangan udara, sehingga menyebabkan harga minyak melonjak US$8 menjadi US$75 per barel di tengah berita penutupan Selat Hormuz.
Menanggapi hal itu, para ahli dari Eurasia Group dan Barclays memperingatkan harga minyak bisa naik hingga US$150 jika Selat Hormuz tetap ditutup untuk jangka waktu yang lama. Selain itu, lalu lintas dan perdagangan internasional juga ikut terganggu oleh penutupan Bandara Internasional Dubai dan wilayah udara Uni Emirat Arab (UEA).
Kornbluth Helium Consulting Phil Kornbluth mengatakan langkah tersebut dapat mengganggu pasokan helium, mengingat penutupan tersebut akan berdampak pada ekspor LNG dan helium Qatar. Ia merinci saat ini Qatar memproduksi sekitar 77 juta ton LNG per tahun.
“Semua LNG yang diproduksi di Qatar mengalir melalui Selat tersebut. Jadi jika LNG tidak dapat dikirim, produksi akan dibatasi pada suatu saat,” ujar Phil.
|Baca juga: Sujaya Dinata Pangestu Akhiri Kepemimpinan di Asuransi Cakrawala Proteksi
|Baca juga: Dwi Ary Purnomo Resmi Lepas Jabatan Komisaris BTN (BBTN)
|Baca juga: Allianz Gelar MoveNow Impact Fund Dukung Penguatan Inklusi dan Literasi Keuangan RI
Ia menambahkan hal tersebut dikarenakan besar helium yang diproduksi di Qatar merupakan produk sampingan dari produksi LNG. Jika produksi LNG berhenti, helium tidak akan diproduksi dari fasilitas Helium1 dan Helium 2 yang memproduksi sekitar 2 bcf helium, atau sekitar 25 persen dari kapasitas dunia.
“Jika pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu, pertanyaan berikutnya adalah berapa lama?” katanya.
Berdasarkan data pelacakan kapal dari MarineTraffic menunjukkan penurunan lalu lintas kapal sebesar 70 persen yang melewati selat tersebut pada hari terjadinya serangan.
“Bahkan dalam beberapa jam setelah gangguan terjadi, premi asuransi untuk kapal-kapal yang melakukan perjalanan di sekitar wilayah tersebut akan meningkat secara signifikan,” kata Strauss Center for International Security and Law.
Lebih lanjut, risiko perang umumnya tidak termasuk dalam kebijakan lambung kapal dan P&I. Karena itu harus dibeli di samping cakupan P&I (kewajiban). Namun mereka menekankan nilai muatan kapal tanker jauh lebih besar dibandingkan dengan kenaikan biaya asuransi.
Sebesar dua juta barel minyak saat ini bernilai lebih dari US$250 juta, sedangkan biaya asuransi hanyalah sebagian kecil dari nilai kapal pengangkut minyak mentah berukuran besar yang mencapai US$120 juta.
“Tidak ada alasan untuk percaya bahwa konflik di Selat Hormuz akan mengakibatkan premi asuransi yang sangat tinggi sehingga akan mengurangi lalu lintas secara signifikan dalam jangka waktu yang lama,” catatnya.
Peneliti Senior Non-Residen di Inisiatif Keamanan Timur Tengah Scowcroft Program Timur Tengah Dewan Atlantik Nic Adams mengatakan Arab Saudi, Qatar, dan UEA kemungkinan terus menyerukan deeskalasi dalam beberapa hari mendatang.
Hal itu karena ketidakstabilan regional mengancam model pembangunan ekonomi mereka yang didasarkan pada ekspor energi, pariwisata, dan daya tarik ekspatriat kaya. “Sudah ada laporan mengenai korban sipil di UEA akibat jatuhnya puing-puing ketika rudal Iran dicegat oleh sistem pertahanan udara,” ucapnya.
“Sejauh ini rezim Iran telah menunjukkan kesediaannya untuk menyerang sasaran AS di negara-negara Teluk, dan kemungkinan besar akan meningkatkan intensitas serangannya jika mereka merasa operasi yang dilakukan AS dan Israel dirancang untuk menggulingkannya,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
