Media Asuransi, GLOBAL – WTW menyatakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) saat ini mengubah profil risiko di berbagai industri. Salah satunya adalah mendorong perusahaan asuransi untuk beralih dari perlindungan AI yang tidak dinyatakan secara eksplisit di bawah polis yang ada menuju formulasi polis yang jelas.
Melansir Insurance Asia, Jumat, 2 Januari 2026, saat ini risiko terkait AI sering kali ditanggung secara implisit dalam polis asuransi siber, tanggung jawab, atau asuransi ganti rugi profesional, seperti yang dijelaskan dalam wawasan ‘Insurance the AI Age‘ oleh Dr. Anat Lior dan Sonal Madhok.
Hal ini mirip dengan asuransi siber awal, ketika kerugian ditanggung oleh polis tradisional sebelum produk asuransi siber khusus tersedia. Namun, cakupan semacam ini menimbulkan ketidakpastian, karena celah dapat muncul ketika kerugian AI tidak jelas sesuai dengan definisi yang ada.
Asuransi kini mulai memperkenalkan endosemen atau pengecualian khusus AI, menandakan pergeseran menuju polis yang secara eksplisit menangani AI. Beberapa produk AI mandiri juga telah muncul, terutama untuk usaha kecil dan menengah, sementara perusahaan teknologi besar sering kali mengasuransikan diri sendiri.
|Baca juga: Saham MREI Bergejolak, Manajemen Tegaskan Tak Ada Informasi Material
|Baca juga: Rasio Klaim Asuransi Kredit Tembus 85,56%, OJK Minta Disiplin Underwriting Diperkuat!
|Baca juga: Chandra Daya (CDIA) Bagi Dividen Interim Rp1,34 per Saham, Dijadwalkan pada 29 Januari 2026
Seiring waktu, risiko AI diperkirakan terintegrasi ke dalam lini asuransi utama seiring dengan perbaikan data klaim. Evolusi ini mirip dengan asuransi siber: perusahaan asuransi memperketat ketentuan seputar keputusan otonom dan kesalahan algoritma, sehingga tinjauan polis saat perpanjangan semakin penting.
Sebagian besar risiko AI masih dapat dipetakan ke polis tradisional, tetapi batasan tetap ada, misalnya, polis siber mungkin tidak mencakup kerugian data perusahaan sendiri, dan asuransi tanggung jawab umum mengecualikan kerugian finansial murni.
Praktik underwriting beradaptasi dengan pertanyaan yang lebih rinci tentang tata kelola AI, pengawasan manusia, dan kontrol. Perusahaan asuransi lebih memilih AI ‘human-in-the-loop’ untuk keputusan berdampak tinggi, sementara perubahan regulasi seperti Undang-Undang AI UE kemungkinan memengaruhi paparan tanggung jawab.
Perusahaan asuransi juga semakin berperan sebagai mitra risiko, mengharuskan pemegang polis untuk menerapkan langkah-langkah keamanan untuk mempertahankan pertanggungan. Lior mengatakan bahasa polis yang lebih jelas, tata kelola yang lebih kuat, dan data underwriting yang lebih baik diharapkan membawa kepastian yang lebih besar,
“Memungkinkan asuransi untuk mendukung adopsi AI yang lebih aman di berbagai industri,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
