1
1

Empat Negara Eropa Ini Sukses Jalankan Program WTE, Satu di antaranya Jadi Destinasi Wisata

Ilustrasi proses pengolahan sampah. | Foto: Freepick

Media Asuransi, JAKARTA – Masalah sampah tidak hanya menjadi persoalan lokal namun sudah menjadi kompleksitas bagi masyarakat di seluruh belahan dunia. Eropa menjadi salah satu benua yang sudah cukup efektif dalam mengolah sampah menjadi sumber energi lewat program waste-to-energy (WtE).

Implementasi teknologi, efisiensi pembiayaan, dan model ekonomi sirkuler menjadi deretan contoh nyata dari hadirnya proyek WtE yang sudah dijalankan di empat negara Eropa. Negara-negara mana saja dari Benua Biru ini yang bisa dijadikan rujukan bagi Danantara Indonesia yang saat ini sedang menggagas program WtE atau dikenal dengan Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL)? Berikut ini adalah uraiannya:

  1. Denmark

Negara ini memiliki pengolahan WtE bernama Amager Bakke atau CopenHill Energy Plant. Bangunan yang terletak di Amager, Copenhagen, Denmark, ini memiliki 2 fungsi, yaitu sebagai pembangkit listrik tenaga limbah dan area rekreasi bagi warga sekitar. Fasilitas ini dibuka pada tahun 2017 untuk menggantikan pabrik pembakaran di Amager. Amager Bakke ini menjadi bagian besar dari tujuan Kota Copenhagen, yaitu menjadi kota bebas karbon yang telah dicanangkan tahun 2025.

|Baca juga: Pemerintah Suntik Dana Investasi Rp10 triliun untuk Dorong Green Energy

Fasilitas ini mampu menghasilkan listrik 57 megawatt (MW) dengan output pemanasan distrik yang signifikan dan fasilitas rekreasi. Sebagai pembangkit listrik tenaga limbah, Amager Bakke telah berhasil mengkonversi 440.000 ton limbah sampah menjadi listrik bagi 150.000 rumah.

Hadirnya fasilitas ini menepis stigma bahwa pabrik pembangkit listrik adalah tempat khusus, sulit diakses, dan membahayakan. Fasilitas ini didesain secara menarik, ini terealisasi dari atapnya yang bisa dinaiki dan bisa menjadi tempat ski bagi warga sekitar. Amager Bakke mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat dan menjadi destinasi wisata.

  1. Swedia

SYSAV Plant di Malmö ini adalah fasilitas pengelolaan sampah dengan adopsi teknologi canggih. Model kerja sama regional yang melayani beberapa kotamadya dengan WtE ini tidak hanya mengatasi persoalan sampah tapi juga mampu memberikan pemanasan distrik bagi daerahnya. SYSAV membakar sampah yang telah dipilah untuk menghasilkan listrik dan panas, menjadi salah satu PLTSa terbesar di Eropa Utara.

|Baca juga: Pemerintah Dorong Pengolahan Sampah Modern Jadi Sumber Energi Terbarukan

Selain listrik, SYSAV juga menangani pengomposan dan daur ulang logam, mengubah sampah menjadi pupuk dan bahan baku industri lain. PLTSampah ini mampu menyerap lebih dari 600.000 ton sampah setiap tahunnya dan kemudian merubahnya menjadi energi listrik sebesar 1,5 Terra Watt Hour (TWH).

Menariknya, sampah-sampah yang diolah di fasilitas ini sebagian masih didatangkan dari sejumlah negara tetangganya di Eropa.

  1. Jerman

Bersama dengan Swedia, Jerman menjadi negara di Eropa yang sudah cukup maju dalam menjalankan proyek WtE di negaranya. Sistem pengelolaan sampah termal canggih di Jerman sudah bisa mengubah sampah residu menjadi energi panas dan listrik melalui insinerasi di sekitar 100 pabrik. Hadirnya fasilitas pengelolaan sampah ini juga mampu menghidupkan ekonomi sirkular dengan mengolah limbah yang tidak bisa didaur ulang menjadi sumber energi terdistribusi (distrik). Di dalamnya terlibat juga sejumlah perusahaan besar seperti EEW dan RWE, serta menjadi minat investasi bagi pelaku industri energi di seluruh dunia.

|Baca juga: Dukung Keberlanjutan Lingkungan, Kementerian PUPR Dorong Daur Ulang Air, Sampah, dan Energi di Rest Area Jalan Tol

Dalam insinerasi sampah ini, sampah yang tidak dapat didaur ulang dibakar dalam fasilitas khusus untuk menghasilkan panas. Lalu panas tersebut digunakan untuk menghasilkan uap yang menggerakkan turbin guna menghasilkan listrik atau disalurkan sebagai panas distrik (District Heating) ke permukiman.

  1. Belanda

Pengelolaan sampah di Belanda menjadi bukti nyata bagaimana menghidupkan ekonomi sirkular. Belanda mengintegrasikan WtE sebagai bagian penting dari ekonomi sirkularnya untuk mengubah sampah tak terdaur ulang menjadi energi dan bahan baku. Program WtE yang dikembangkan di negara ini telah mampu mengurangi ketergantungan pada sumber daya fosil, dan mencapai target nol limbah pada 2050 melalui teknologi seperti insinerasi terkontrol dan pemulihan material.

Kunci keberhasilan Belanda dalam mengelola sampah adalah integrasi dari WtE dan daur ulang. WtE berperan setelah daur ulang. Prioritasnya tetap pada pencegahan, penggunaan kembali, dan daur ulang material, sementara WtE menangani sisa yang tidak dapat didaur ulang. Di sini, Belanda sudah menunjukkan adanya pengelolaan terpadu, yakni sampah rumah tangga dipilah di sumbernya, material bersih didaur ulang, dan residu diolah melalui WtE.  Pengelolaan sampah di Belanda menjadi bagian strategis dari Program Nasional Ekonomi Sirkular 2023-2030 yang diharapkan bisa terwujud sepenuhnya pada 2050.

Editor : Wahyu Widiastuti

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Perluas Bisnis Korporasi, Optik Melawai Gandeng 5 Mitra Bisnis Baru di Awal 2026
Next Post Bank Mega Syariah Catat Transaksi Syariah Card Melonjak 48% di Desember 2025

Member Login

or