1
1

Konflik Timur Tengah dan Penutupan Selat Hormuz, OJK Soroti Ancaman Inflasi dan Volatilitas Pasar

Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi. | Foto: Media Asuransi/Angga Bratadharma

Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara soal memanasnya tensi konflik di Timur Tengah lantaran dampaknya bisa menjalar ke perekonomian Indonesia. Kondisi itu terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran dan menyebabkan tewasnya Ali Khamenei.

Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengaku tidak menyangka terjadi kejadian yang luar biasa di dunia internasional yakni terjadinya perang di mana AS dan Israel menyerang Iran. Kondisi ini menyebabkan Selat Hormuz akhirnya ditutup oleh Iran.

“Ternyata tidak ada yang steady. Kalau kita melihat beberapa hari ini kita dikejutkan dengan satu kejadian yang sangat luar biasa. Kita pikir setelah Venezuela mereda, ternyata kemarin kita menghadapi suatu eskalasi konflik di Iran,” kata Friderica, dalam Market Outlook 2026, Selasa, 3 Maret 2026.

|Baca juga: Serangan AS-Israel ke Iran Picu Ketegangan, Eksportir Waspadai Lonjakan Biaya Logistik

|Baca juga: Pasar Asuransi Non-Jiwa RI Disebut Mampu Beradaptasi dengan Peraturan Modal yang Ketat

Menurutnya konflik yang terjadi akan memberi dampak signifikan mengingat Iran memiliki cadangan minyak terbesar ketiga setelah Venezuela. Selain itu, Iran secara geografis juga menguasai Selat Hormuz yang dampaknya tidak hanya kenaikan harga minyak tapi mata rantai lainnya.

“Iran ini punya proven oil reserve yang terbesar ketiga setelah Venezuela. Juga mereka menguasai Selat Hormuz. Tentunya ini akan memengaruhi harga minyak global. Terlebih kalau Selat Hormuz ditutup secara berkepanjangan maka ini akan sangat berpengaruh kepada global termasuk Indonesia,” tegasnya.

Kiki sapaan akrabnya menjelaskan Selat Hormuz dilalui sekitar 30 persen perdagangan minyak dan LNG sekitar 20 persen. Apabila Selat Hormuz ditutup secara berkepanjangan maka menjadi sesuatu hal yang harus diantisipasi rambatannya ke dalam perekonomian Indonesia.

|Baca juga: Konflik Timur Tengah Ganggu Penerbangan, Klaim Asuransi Bergantung pada Waktu Pembelian Polis

|Baca juga: Asuransi Perjalanan Tidak Tanggung Pembatalan Penerbangan Akibat Konflik Timur Tengah

“Kenaikan harga minyak tentu akan menaikkan inflasi secara global. Melihat ini sebagai satu consideran yang utama dalam menetapkan suku bunga. Hal ini akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan juga pengetatan likuiditas tentu saja di dalam pasar keuangan global,” jelasnya.

“Dan ini juga tentunya akan berpengaruh bagaimana persaingan untuk mendapatkan dana global yang akan semakin ketat. Yang ketiga, kalau kita melihat bagaimana ketidakpastian ini juga akan mendorong flight to quality ke instrumen safe haven,” tambahnya.

Dalam kondisi semacam ini, lanjutnya, Indonesia dituntut untuk memperkuat fundamental yang kuat sekaligus tata kelola yang kredibel agar tetap kompetitif dan menarik aliran modal asing. Pada konteks ini, tambahnya, OJK berkomitmen untuk memperkuat tata kelola governance di pasar Indonesia.

|Baca juga: David Alexander Gibbs Pensiun, AMMAN (AMMN) Siapkan Agenda Perubahan Direksi di RUPST

|Baca juga: Bandara Dubai Hentikan Operasional, Asuransi Perjalanan Tidak Tanggung Risiko Perang

“Bagaimana dengan di dalam negeri? Kita sudah merasakan peningkatan volatilitas usai pengumuman beberapa index provider dan juga rating agency yang mendorong akselerasi reformasi dan penguatan tata kelola pasar domestik melalui reformasi integritas di pasar modal,” jelasnya.

Selain itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat mengalami koreksi merespons isu tersebut. “Kita melihat bagaimana respons pasar terhadap isu tersebut. Ini menunjukkan bagaimana ekspektasi terhadap standar integritas, transparansi, dan kualitas governance yang dituntut semakin tinggi,” ucapnya.

|Baca juga: Allianz Indonesia Komitmen Hadirkan Ruang Belajar Inklusif dan Relevan

|Baca juga: IHSG Berpotensi Bertenaga Hari Ini, Berikut 4 Rekomendasi Saham Pilihan!

“Tentunya kalau kita melakukan reformasi struktural, pasar keuangan kita akan, harapan kita semua tentu menjadi semakin tangguh termasuk dalam menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global yang sedang kita hadapi saat ini,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Pasar Asuransi Non-Jiwa RI Disebut Mampu Beradaptasi dengan Peraturan Modal yang Ketat
Next Post Timur Tengah Membara, Premi Asuransi Kapal Diprediksi Melesat!

Member Login

or