Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga hingga Desember 2025. Hal itu terjadi meskipun berada di tengah dinamika perekonomian global yang masih penuh tantangan.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan rilis data perekonomian global secara umum menunjukkan perbaikan, meskipun kinerja ekonomi China masih berada di bawah ekspektasi.
“Aktivitas manufaktur global tetap berada di zona ekspansi meskipun lajunya mengalami moderasi, sejalan dengan menurunnya kepercayaan konsumen global,” kata Mahendra, dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (RDKB) OJK, dikutip dari keterangan resminya, Senin, 12 Januari 2026.
Untuk 2026, lanjut Mahendra, lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global masih akan berlanjut melandai dan berada di bawah rata-rata pertumbuhan pra-pandemi, seiring dengan meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama.
“(Bahkan) di Amerika Serikat, perekonomian dinilai masih menunjukkan kinerja yang relatif solid,” ujarnya.
Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat pada kuartal III/2025 tercatat tumbuh sebesar 4,3 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dan berada di atas konsensus pasar. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, penurunan impor, serta peningkatan investasi yang terkait dengan pengembangan kecerdasan buatan.
|Baca juga: OJK Catat Aset Asuransi RI Tembus Rp1.194 Triliun hingga November 2025
|Baca juga: OJK Resmi Terbitkan POJK Asuransi Kesehatan untuk Atur Skema Co-Payment dan Deductible
|Baca juga: Bos OJK Beberkan Progres dan Dampak Relaksasi Tanggap Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Di sisi lain, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi. Inflasi pada November 2025 tercatat turun menjadi 2,7 persen, sementara inflasi inti menurun ke level 2,6 persen dari posisi 3,0 persen pada Oktober 2025.
“Sementara itu, di China perlambatan ekonomi masih berlanjut dengan konsumsi rumah tangga masih tertahan. Dari sisi penawaran, PMI manufaktur kembali ke zona kontraksi, dan tekanan di sektor properti masih berlangsung,” sambung Mahendra.
|Baca juga: Bappenas Sebut Program MBG dan Danantara Jadi Solusi Atasi Persoalan Struktural
Perkembangan tersebut dinilai mendorong sejumlah bank sentral kembali menempuh kebijakan yang lebih akomodatif. The Fed memangkas suku bunga 25 basis poin pada pertemuan Desember 2025. Bank of England (BoE) juga kembali memangkas suku bunga acuannya 25 basis poin menjadi 3,75 persen, yang merupakan pemangkasan keempat sepanjang 2025.
“Namun, Bank of Japan menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir didorong oleh tekanan inflasi yang relatif persisten di Jepang,” kata Mahendra.
Perbedaan arah kebijakan moneter tersebut turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global. Pasar saham global secara umum bergerak menguat merespons pemangkasan suku bunga AS, meskipun diiringi kekhawatiran terhadap potensi bubble pada saham-saham teknologi.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong pelemahan pasar sovereign bond global seiring berakhirnya praktik carry trade yang selama ini menopang pasar tersebut. “Di awal 2026 pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global secara keseluruhan,” katanya.
“Di tengah dinamika global tersebut, perekonomian domestik pada Desember 2025 mencatatkan inflasi inti yang meningkat,” tambah Mahendra.
Lebih lanjut, sektor manufaktur nasional terpantau masih berada dalam fase ekspansif. Sementara kinerja eksternal tetap terjaga dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
