Media Asuransi, JAKARTA – Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menilai kebijakan tarif resiprokal terbaru yang diterapkan Amerika Serikat (AS) berimplikasi serius terhadap kinerja ekspor Indonesia.
Menurutnya, kondisi ini menjadi momentum untuk mempercepat diversifikasi pasar ekspor dan memperkuat daya saing industri dalam negeri. Ia menjelaskan selama ini sekitar hampir 11 persen ekspor nonmigas Indonesia masih bergantung pada pasar AS.
Ketergantungan tersebut, kata dia, perlu dikurangi secara bertahap agar posisi tawar Indonesia dalam negosiasi perdagangan tidak semakin lemah.
|Baca juga: Bank Mega Syariah dan Berdikari Kolaborasi Permudah Masyarakat Berkurban
|Baca juga: Siapkan Rp65,7 Triliun saat Ramadan 2026, Begini Cara Tukar Uang Pecahan Kecil di BCA (BBCA)!
“Memang kita akhirnya harus melakukan diversifikasi pasar ekspor, karena meskipun sekitar hampir 11 persen ekspor nonmigas kita tertuju ke Amerika Serikat, kita (tetap) harus mulai secara bertahap mengurangi ketergantungan ke Amerika Serikat,” kata Heri, Jumat, 27 Februari 2026.
Ia menilai ketergantungan yang tinggi terhadap satu pasar dapat membuat Indonesia berada dalam posisi yang kurang menguntungkan saat terjadi tekanan kebijakan dagang.
“Karena kalau kita semakin banyak ekspor ke sana (AS) artinya (jika) mereka meminta sesuatu, ya kita tidak enak kalau tak turutin. Jadinya ya kita kemarin nurutin banyak hal, (contohnya saat) pemerintah melakukan negosiasi,” katanya.
Selain diversifikasi ekspor, dirinya menekankan pentingnya penguatan pasar domestik. Pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat agar tetap tumbuh sehingga pasar dalam negeri mampu menyerap produk nasional ketika akses ke pasar luar negeri mengalami hambatan.
|Baca juga: Ketua PAI Sebut Timur Tengah Kagum dengan Kemajuan Industri Asuransi Syariah Indonesia
|Baca juga: Bos PAI: Minat Masyarakat untuk Berkarier di Sektor Syariah Sangat Tinggi
Ia kerap mengingatkan potensi banjir produk impor akibat pergeseran arus perdagangan global bisa saja terjadi. Jika negara lain kesulitan menembus pasar Amerika Serikat maka ada kemungkinan produk-produk tersebut dialihkan ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Jadi kalau misalnya China susah ekspor ke Amerika Serikat, akhirnya barangnya sampai ke Indonesia. Akhirnya kita bukan cuma banjir produk dari AS, tapi juga dari negara-negara lain,” paparnya.
Lebih lanjut, Heri menilai, kebijakan industri nasional harus tetap konsisten dijalankan untuk mendorong reindustrialisasi. Upaya menekan biaya produksi dan mengurangi biaya tinggi dalam sektor manufaktur menjadi kunci agar produk Indonesia lebih kompetitif.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
