1
1

Bos Bundamedik (BMHS) Beberkan Strategi untuk Jawab Tantangan Industri Kesehatan di 2026

Ilustrasi. | Foto: Bundamedik

Media Asuransi, JAKARTA – Memasuki 2026, industri kesehatan Indonesia bergerak ke fase yang semakin matang dan selektif, di mana pertumbuhan tidak lagi semata didorong oleh ekspansi agresif atau peningkatan volume pasien, melainkan oleh kemampuan pelaku industri.

Kemampuan yang dimaksudkan yakni dalam menjaga kualitas layanan, keselamatan pasien, serta keberlanjutan jangka panjang. Sejalan dengan arah tersebut, pemerintah juga terus memperkuat sektor kesehatan melalui peningkatan alokasi anggaran dalam APBN 2026 yang ditujukan untuk mendukung berbagai program nasional.

Upaya tersebut termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), cek kesehatan gratis, revitalisasi fasilitas layanan, serta penanganan isu kesehatan prioritas. Dukungan kebijakan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan akses dan keterjangkauan layanan kesehatan secara bertahap.

Perubahan demografi turut memperkuat pergeseran arah industri. Populasi keluarga muda di perkotaan, meningkatnya prevalensi penyakit kronis, serta bertambahnya kelompok usia lanjut mendorong kebutuhan layanan kesehatan yang lebih terintegrasi dan berkesinambungan.

|Baca juga: OJK Pelototi Perusahaan Asuransi yang Belum Memenuhi Ketentuan Ekuitas Tahap I di 2026

|Baca juga: Bos OJK Yakin Kinerja Asuransi Kendaraan Tetap Ciamik di 2026

|Baca juga: Makin Tajir Melintir, Preskom BCA Jahja Setiaatmadja Borong 67.000 Saham BBCA!

Kebutuhan ini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan membentuk pola layanan berbasis siklus hidup, mulai dari layanan ibu dan anak hingga penanganan medis kompleks pada tahap lanjut kehidupan.

Kondisi tersebut menuntut rumah sakit untuk tidak hanya memperluas kapasitas, tetapi juga membangun sistem layanan kesehatan yang konsisten, terintegrasi, dan berorientasi jangka panjang.

“Dinamika tersebut perlu ditanggapi dengan kemampuan layanan kesehatan untuk beradaptasi secara strategis,” kata President Director PT Bundamedik Tbk (BMHS) Agus Heru Darjono, dikutip dari keterangan resminya, Selasa, 3 Februari 2026.

|Baca juga: Bos OJK Pede Kinerja Industri Asuransi RI Cerah, tapi Syaratnya Ini!

|Baca juga: OJK Bawa Kabar Baik terkait Prospek Bisnis Unitlink dan Endowment di 2026

|Baca juga: Direktur Alam Sutera Realty Borong 2 Juta Lembar Saham ASRI

Seiring industri kesehatan memasuki fase yang semakin matang, lanjutnya, diferensiasi tidak lagi ditentukan oleh kecepatan ekspansi, melainkan oleh konsistensi dalam menjaga mutu layanan dan keselamatan pasien secara berkelanjutan.

“BMHS tidak hanya berfokus pada perluasan kapasitas, tetapi juga pada pengembangan layanan yang terintegrasi, berkesinambungan, dan relevan dengan kebutuhan kesehatan keluarga di setiap fase kehidupan,” ujar Agus.

Sejalan dengan itu, tambahnya, meningkatnya kompleksitas kebutuhan medis turut membentuk lanskap industri kesehatan yang semakin menuntut kesiapan layanan tingkat lanjut dan spesialistik.

|Baca juga: Komisaris Erwin Ciputra Borong 2,3 Juta Saham Chandra Daya Investasi (CDIA)

|Baca juga: Bos OJK Yakin Penerapan INDONIA Berdampak Positif terhadap Industri Asuransi

|Baca juga: OJK Tepis Isu Asuransi Wajib Wisatawan Asing Hanya Untungkan Joint Venture

Peningkatan usia harapan hidup, prevalensi penyakit kronis, serta ekspektasi pasien terhadap penanganan yang lebih presisi dan aman mendorong kebutuhan akan layanan medis kompleks yang terintegrasi dalam satu ekosistem.

Merespons dinamika tersebut, BMHS menempatkan pengembangan layanan medis kompleks sebagai salah satu fokus strategis, melalui penguatan kapabilitas klinis dan pemanfaatan teknologi medis presisi secara bertahap dan terukur.

Pada 2025, BMHS berhasil menghadirkan berbagai layanan medis kompleks seperti transplantasi ginjal hingga Robotic Skin Sparing Mastectomy pertama di Asia Tenggara.

|Baca juga: Tommy Soeharto Lepas Seluruh Kepemilikan Langsung di Humpuss Intermoda (HITS), Ada Apa?

|Baca juga: Direktur BCA Lianawaty Suwono Borong 300 Ribu Lembar Saham BBCA

|Baca juga: Wabah Superflu Merebak, OJK Pelototi Rasio Klaim Asuransi Kesehatan

“Meningkatnya kompleksitas kebutuhan medis mendorong rumah sakit untuk benar-benar naik kelas, bukan hanya dalam adopsi teknologi, tetapi juga dalam kesiapan sistem dan kedalaman keahlian klinis,” tuturnya.

Selama ini, lanjutnya, BMHS secara konsisten membangun kapabilitas layanan medis kompleks yang ditopang oleh SDM yang mumpuni dan teknologi presisi, termasuk pemanfaatan robotic surgery pada kasus-kasus tertentu.

“Upaya ini kami jalankan agar masyarakat memiliki kepercayaan dan pilihan layanan yang aman, terintegrasi, dan dapat diandalkan di Indonesia,” pungkas Agus.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Agar Aset Tetap Terjaga, MPMInsurance Dorong Kesadaran Proteksi
Next Post Lion Parcel Tebar Promo dan Siapkan Strategi Jelang Ramadan

Member Login

or