1
1

Fitch Nilai Ketidakpastian Tarif AS dan Perlambatan Ekonomi China Hantui Risiko Kredit Global

Lembaga pemeringkat utang Fitch Ratings. | Foto: Menpan.go.id

Media Asuransi, GLOBAL – Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menyatakan prospek risiko kredit global relatif tidak berubah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, meskipun berbagai ketidakpastian masih membayangi perekonomian dunia.

Dalam laporan terbarunya Fitch menilai sejumlah faktor masih menjadi sumber risiko seperti kebijakan tarif dan perdagangan Amerika Serikat (AS), keberlanjutan kondisi pendanaan pasar yang saat ini relatif stabil, ketegangan geopolitik, serta volatilitas kebijakan fiskal dan ekonomi di berbagai negara.

Selain itu, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI yang bersifat transformasional serta meningkatnya pembiayaan melalui jalur pendanaan privat juga disebut sebagai sumber ketidakpastian baru bagi pasar keuangan global.

Dilansir dari Asia Insurance Review, Rabu, 11 Maret 2026, koreksi valuasi AI dan risiko di pasar utang pemerintah juga berpotensi memicu volatilitas yang lebih luas di pasar modal.

Fitch juga menyoroti munculnya sejumlah risiko makroekonomi baru, seperti kemungkinan ekonomi AS mengalami overheating serta tren kontraksi investasi modal tetap di China yang semakin dalam. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menekan proyeksi pertumbuhan ekonomi China.

|Baca juga: Rupiah Melemah, CELIOS Peringatkan IHSG Bisa Crash dan Industri Asuransi Terdampak

|Baca juga: AAUI Sebut Konflik Timur Tengah Belum Memengaruhi Bisnis Industri Asuransi Umum

Kontraksi investasi modal tetap yang terus berlangsung di China turut menegaskan meningkatnya risiko makro ekonomi regional dan global, seiring melemahnya permintaan domestik negara tersebut.

Dalam skenario dasar, Fitch menilai, kondisi ekonomi global dan kualitas kredit masih relatif stabil. Ketahanan peringkat kredit pada portofolio global yang tercatat pada 2025 diperkirakan masih berlanjut hingga 2026.

Namun, lembaga pemeringkat tersebut memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan sedikit melambat pada 2026. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil dunia diproyeksikan turun menjadi 2,4 persen dari 2,7 persen pada 2025.

China menjadi pengecualian dengan perlambatan yang lebih tajam. Fitch memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara tersebut turun menjadi 4,1 persen dari sebelumnya lima persen, seiring melemahnya konsumsi rumah tangga dan investasi modal.

Perekonomian China saat ini menghadapi penurunan investasi yang belum pernah terjadi dalam sejarah modernnya, di tengah kontraksi pasar perumahan yang berlangsung selama beberapa tahun, lemahnya konsumsi rumah tangga, serta tekanan deflasi yang meluas.

Kontraksi investasi tetap yang terjadi secara tiba-tiba sejak kuartal III/2025 diduga berkaitan dengan kebijakan pemerintah untuk membatasi persaingan harga yang terlalu agresif di sejumlah sektor industri.

Meski demikian, Fitch memperkirakan, kontraksi tersebut bersifat sementara dan investasi tetap berpotensi kembali tumbuh positif pada 2026. Namun, ketidakpastian terkait kebijakan tersebut serta respons mitra dagang China terhadap ketahanan ekspor negara itu di tengah tarif AS masih menjadi risiko yang perlu diperhatikan.

|Baca juga: Zurich Prediksi Premi Travel Insurance dan Kendaraan Naik saat Lebaran 2026

|Baca juga: Zurich Pede Hadapi New RBC, Rasio Solvabilitas Sudah Capai 300%

Jika kontraksi berlangsung lebih lama, dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri China tetapi juga di tingkat regional dan global, terutama melalui penurunan permintaan komoditas.

Sementara itu, Fitch mencatat, jumlah sektor dengan prospek memburuk jauh lebih banyak dibandingkan dengan sektor yang prospeknya membaik. Dari sekitar 25 persen sektor yang tidak memiliki outlook netral, mayoritas berada dalam kategori memburuk dengan rasio sekitar lima banding satu dibanding sektor yang membaik.

Ketimpangan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan operasional global masih kurang mendukung bagi banyak sektor industri. Kondisi ini juga menandakan risiko penurunan tetap mendominasi dan dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap fundamental kredit perusahaan yang telah menghadapi kondisi bisnis yang melemah.

Dalam analisis prospek 2026, Fitch mengidentifikasi empat tema lintas sektor yang berpotensi memperburuk kinerja industri, yaitu perlambatan permintaan domestik China, tekanan terhadap konsumen di Amerika Serikat, volatilitas tarif AS, serta tantangan makroekonomi di Kanada.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Taspen Imbau Peserta Waspada Penipuan Usai Cairnya THR 2026
Next Post DBS Foundation Salurkan Rp11,2 Miliar untuk 5 Social Enterprise

Member Login

or