1
1

Harga Rata-Rata ICP di Level US$68 Per Barel, APBN Jadi Shock Absorber di Tengah Eskalasi Konflik Timteng

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. | Foto: Kemenkeu

Media Asuransi, JAKARTA – Akibat eskalasi konflik geopolitik, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) hingga Maret 2026 berada di level US$68 per barrel meskipun harga minyak mentah Brent sempat menembus level US$100 per barrel.

Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menunjukkan kinerja yang solid sebagai instrumen shock absorber di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Hal tersebut karena, harga minyak mentah Indonesia Angka masih berada di bawah asumsi APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel.

“Sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026. Nanti kalau ke depan keadaan menekan lagi, kita akan tentunya mengatur APBN, tapi kita semua dalam berawal dari posisi yang kuat APBN-nya. Jadi teman-teman gak usah khawatir,” ujar Purbaya dikutip dalam keterangan resminya, Kamis, 12 Maret 2026.

|Baca juga: Industri Halal Indonesia Disebut Tangguh Menahan Gejolak Geopolitik Global

|Baca juga: AASI Sebut Regulasi dan Integrasi Ekosistem Jadi Tantangan Penetrasi Asuransi Syariah

|Baca juga: Profil Friderica Widyasari Dewi yang Terpilih Jadi Ketua DK OJK yang Baru

Optimisme ini didorong oleh performa sektor riil yang menunjukkan tren penguatan signifikan. Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia pada Februari 2026 mencapai level 53,8, angka tertinggi dalam dua tahun terakhir. Posisi ini menempatkan Indonesia lebih unggul dibandingkan negara-negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Australia.

“Ekonomi kita sedang mengalami masa ekspansi dalam posisi yang kuat. Jadi teman-teman tidak usah takut, kita bisa mengendalikan dampak negatif gejolak global ke depan,” tambahnya.

Selain itu, indikator daya beli masyarakat juga tercatat solid. Mandiri Spending Index meningkat ke level 360,7 persen pada Februari, diikuti dengan pertumbuhan penjualan mobil yang mencapai dua digit (12 persen). Menkeu juga menepis anggapan bahwa daya beli masyarakat melemah, merujuk pada Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap tinggi di atas level 100.

Di sisi lain, terkait inflasi yang mencapai 4,76 persen (yoy) pada Februari, Menkeu menjelaskan bahwa angka tersebut dipengaruhi oleh faktor temporer low base effect diskon listrik tahun lalu. Tanpa faktor tersebut, inflasi diperkirakan hanya sebesar 2,59 persen, masih di bawah target sasaran.

Menkeu juga menyoroti keberhasilan koordinasi fiskal-moneter antara Pemerintah dan Bank Indonesia. Penempatan kas pemerintah sebesar Rp200 triliun terbukti mampu menjaga likuiditas perbankan, sehingga suku bunga kredit turun menjadi 8,8 persen pada Januari 2026.

“Jadi secara keseluruhan kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi untuk mendorong ekonomi, serta defisit yang tetap terkendali, menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Purbaya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Perang Berkecamuk, Perusahaan Asuransi Penerbangan Singapura Disebut Perlu Kelola Paparan Risiko
Next Post OJK Waspadai Praktik Pialang Asuransi Tanpa Izin di Industri

Member Login

or