Media Asuransi, JAKARTA – Head of BSI Institute Luqyan Tamanni menilai industri halal memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap gejolak geopolitik global. Hal tersebut lantaran struktur pasar ekspor produk halal yang didominasi oleh negara-negara di luar kawasan konflik.
Luqyan melihat peta ekspor produk halal Indonesia dengan pasar terbesar justru bukan berasal dari negara yang secara tradisional dikenal sebagai konsumen utama produk halal.
“Tapi yang jelas, pasar terbesar justru bukan dari yang kita duga sebagai tradisional market untuk produk halal,” ujar Luqyan, dalam iLearn Thematic Webinar oleh Indonesia Re bertajuk ‘From Protection to Prosperity: The Strategic Role of Takaful in the Sharia Ecosystem‘, Rabu, 11 Maret 2026.
|Baca juga: BNI (BBNI) Tebar Dividen Rp349 per Saham, Cek Jadwal Lengkapnya di Sini!
|Baca juga: CEO Prudential Mundur Usai Karyawan Sebarkan Data Internal Perusahaan
Dirinya menjelaskan sejumlah negara dengan kontribusi terbesar terhadap ekspor produk halal antara lain China, Amerika Serikat (AS), Malaysia, India, dan Jepang. Negara tersebut bahkan menjadi tujuan ekspor yang lebih besar dibandingkan dengan beberapa negara di kawasan Timur Tengah.
“Yang terbesar adalah China, Amerika Serikat, Malaysia. (Selain itu ada) India, Belanda, Filipina, Jepang dan seterusnya,” kata Luqyan.
|Baca juga: 1 Miliar Muslim Terdampak Krisis Global, Erwin Noekman Soroti Peluang Besar Asuransi Syariah
Sebaliknya, beberapa negara yang selama ini dianggap pasar utama produk halal, seperti Mesir dan Arab Saudi, justru memiliki porsi yang relatif kecil dalam struktur ekspor halal Indonesia. Kondisi ini membuat industri halal Indonesia relatif lebih terlindungi dari dampak langsung konflik geopolitik yang saat ini terjadi di kawasan Timur Tengah.
“Jadi kalau kita lihat peta pasar sekarang ini, pasar (industri halal) berada di luar kawasan yang sedang berkonflik,” ucapnya.
Selain faktor pasar, Luqyan menyoroti tren ekspor produk halal Indonesia yang terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun sempat mengalami gangguan selama pandemi covid-19 akibat hambatan logistik global, namun tren ekspor kembali meningkat sejak 2021.
|Baca juga: Konflik Timur Tengah dan Pelemahan Rupiah Berpotensi Tekan Daya Beli Masyarakat
|Baca juga: Fitch Nilai Ketidakpastian Tarif AS dan Perlambatan Ekonomi China Hantui Risiko Kredit Global
“(Memang) ada logistik bottleneck sebenarnya di beberapa tempat. Saya pikir di 2023-2024 sempat turun, tapi dari 2021-2025 dan proyeksi 2026 itu trennya meningkat,” imbuh Luqyan.
Ekspor halal Indonesia, kata Luqyan, juga masih didominasi oleh sektor makanan dan minuman halal. Sementara itu, sektor lain seperti fesyen Muslim, farmasi, dan kosmetik halal mulai menunjukkan perkembangan positif.
Sektor tersebut merupakan keunggulan Indonesia karena didukung oleh sumber daya, kapasitas produksi, serta kualitas produk yang cukup kompetitif di pasar global. Dengan daya saing tersebut, industri halal memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ekspor nasional.
Ia menyebutkan produk halal menyumbang sekitar 20 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia. “Jadi secara kualitas produk kita cukup berdaya saing di pasar ekspor, cukup signifikan pada kontribusi ekonomi syariah, khususnya produk halal. Ini mungkin alasan kenapa saya sedikit optimistis dengan industri halal Indonesia,” tutupnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
