1
1

Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah

Perdagangan mata uang asing. | Foto: OCBC NISP

Media Asuransi, JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada pekan pertama 2026, cukup stabil. Berdasar kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia (BI) menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah secara periodik.

Perkembangan Nilai Tukar 5-9 Januari 2026

Pada akhir hari Kamis, 8 Januari 2026

  1. Rupiah ditutup pada level (bid) Rp16.785 per dolar AS.
  2. Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun naik ke 6,05 persen.
  3. DXY menguat ke level 98,93.
  4. Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun turun ke 4,167 persen.

|Baca juga: Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah

DXY atau Indeks Dolar adalah indeks yang menunjukkan pergerakan dolar terhadap enam mata uang negara utama lainnya (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF).

UST atau US Treasury Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.

Pada pagi hari Jumat, 9 Januari 2026

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp16.815 per dolar AS.
  2. Yield SBN 10 tahun naik ke 6,15 persen.

|Baca juga: Investor Ritel Domestik Kian Aktif, IHSG Catat Rekor Tertinggi 24 Kali di 2025!

Aliran Modal Asing (Minggu I Januari 2026)

  1. Premi CDS Indonesia 5 tahun per 8 Januari 2026 sebesar 69,57 bps (basis points), naik dibanding dengan 2 Januari 2026 sebesar 67,62 bps.
  2. Berdasar data transaksi 5-8 Januari 2026, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp1,44 triliun, terdiri dari beli neto sebesar Rp1,78 triliun di pasar saham dan Rp1,04 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta jual neto sebesar Rp1,38 triliun di pasar SBN.
  3. Selama tahun 2026, berdasar data setelmen sampai dengan 8 Januari 2026, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp3,85 triliun di pasar saham, Rp3,23 triliun di pasar SBN, dan Rp0,26 triliun di SRBI

“Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait, serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resmi yang dikutip Senin, 12 Januari 2026.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Masa Jabatan Budi Tampubolon Habis, AAJI Tunjuk Albertus Wiroyo dan Handojo G. Kusuma Jadi Plt Ketua Dewan Pengurus
Next Post BSI (BRIS) Perkuat Transformasi Digital Lewat Ekosistem Pasar

Member Login

or