Media Asuransi, JAKARTA – Berdasar SSGI (Survei Status Gizi Indonesia) 2024 terjadi penurunan angka stunting nasional dari 21,5 persen pada 2023 menjadi sebesar 19,8 persen pada 2024. Namun, ternyata Indonesia justru menghadapi tantangan baru berupa hidden hunger pada anak.
Ahli kesehatan memperingatkan, banyak anak yang tampak sehat dan aktif ternyata mengalami kekurangan gizi penting, terutama zat besi, zinc, dan vitamin D, akibat pola makan yang tidak seimbang.
Dokter Monique Carolina Widjaja, dokter gizi klinik yang berpraktik di Primaya Hospital Tangerang, menjelaskan bahwa kesalahan nutrisi pada anak kerap terjadi tanpa disadari orang tua dan dianggap sebagai hal yang wajar.
|Baca juga: Indef Sebut Program Makan Bergizi Gratis Berdampak Positif terhadap Konsumsi Rumah Tangga
“Banyak orang tua fokus pada rasa kenyang, bukan kandungan gizi. Akibatnya, anak mendapat asupan karbohidrat berlebih, tetapi kekurangan protein hewani dan mikronutrien penting,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Minggu, 25 Januari 2026.
Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan triple burden of malnutrition, yakni stunting, obesitas, dan defisiensi mikronutrien pada anak. Meski angka stunting menunjukkan tren penurunan, masalah gizi lain justru semakin menguat.
Menurut dokter Monique, peningkatan konsumsi makanan ultra-proses (ultra processed food/UPF) seperti nugget, sosis, sereal manis, dan camilan kemasan menjadi salah satu pemicu utama masalah gizi anak saat ini.
“Makanan ini sangat lezat dan praktis, tapi rendah kualitas gizi. Dalam jangka panjang, dapat merusak sinyal kenyang alami, memicu obesitas, serta meningkatkan risiko penyakit metabolik sejak usia muda,” katanya.
|Baca juga: Primaya Hospital Tangerang Luncurkan Layanan Thalasemia Terpadu
Masalah nutrisi anak kerap tidak terdeteksi karena gejalanya tidak selalu kasat mata. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai orang tua antara lain:
– Anak mudah lelah dan sulit konsentrasi
– Sariawan berulang atau gusi mudah berdarah
– Rambut kusam, mudah rontok, dan kuku rapuh
– Anak sering sakit atau mengalami infeksi berulang
“Anak bisa terlihat sehat dan aktif, tapi secara biologis tubuhnya kekurangan zat gizi penting. Inilah yang disebut hidden hunger. Gejala-gejala ini sering dianggap sepele atau bagian dari fase tumbuh kembang, padahal bisa menjadi sinyal awal malnutrisi,” tambah dokter Monique.
|Baca juga:Dukung Gaya Hidup Sehat Masyarakat, Primaya Hospital Karawang Resmikan Wellness Center
Oleh karena itu, menurut dia, skrining gizi rutin menjadi penting, meskipun anak terlihat sehat dan aktif. Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi hidden hunger sejak dini, memantau pertumbuhan jangka panjang, serta mencegah stunting terselubung, obesitas, dan penyakit tidak menular di masa depan.
Skrining gizi yang ideal meliputi:
- Pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala dan lengan)
- Pemeriksaan fisik (kulit, rambut, mulut, konjungtiva)
- Evaluasi pola makan harian
- Pemeriksaan laboratorium bila diperlukan, termasuk darah lengkap dan status mikronutrien
Edukasi yang tepat dan pemantauan rutin, membuat masalah gizi pada anak dapat dicegah sejak dini. Kesalahan nutrisi pada masa anak-anak tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga daya tahan tubuh dan produktivitas di masa depan.
“Nutrisi anak tidak boleh ditunda atau disepelekan. Apa yang masuk ke piring anak hari ini akan menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan daya saing di masa depan. Skrining gizi sebaiknya menjadi bagian dari perawatan kesehatan anak, sama pentingnya dengan imunisasi,” tutur dokter Monique.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
