Media Asuransi, JAKARTA – Pasar kripto menguat signifikan setelah Bitcoin kembali menembus level US$96.232 atau sekitar Rp1,64 miliar (kurs dolar AS Rp16.875) pada perdagangan Rabu, 14 Januari 2026. Kenaikan ini didorong oleh kombinasi sentimen positif dari data inflasi Amerika Serikat yang lebih moderat serta kemajuan pembahasan regulasi aset kripto di Negeri Paman Sam.
Berdasar data perdagangan global, Bitcoin sempat naik sekitar 3,6 persen ke level US$96.876. Ethereum (ETH) turut menguat 4,8 persen, sementara XRP mencatat kenaikan sekitar 1,4 persen. Reli ini terjadi setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Desember yang menunjukkan inflasi inti lebih terkendali, memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga dalam waktu dekat.
|Baca juga:Ruang Pertumbuhan Pasar Kripto Indonesia Masih Besar
CPI AS tercatat naik 0,3 persen secara bulanan dan 2,7 persen secara tahunan, sementara inflasi inti hanya naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan. Data ini meningkatkan optimisme pasar terhadap pelonggaran kondisi likuiditas ke depan, yang secara historis berdampak positif bagi aset berisiko termasuk kripto.
Dari sisi kebijakan, sentimen pasar turut diperkuat oleh diperkenalkannya draf RUU “Digital Asset Market CLARITY Act” oleh Senator AS menjelang pembahasan di Senate Banking Committee. RUU ini bertujuan memperjelas klasifikasi aset kripto sebagai sekuritas atau komoditas, sekaligus memberikan kewenangan lebih luas kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC) untuk mengawasi pasar spot kripto.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai kombinasi faktor makroekonomi dan regulasi ini menjadi katalis penting bagi pergerakan harga Bitcoin. “Pasar melihat adanya sinyal yang semakin jelas bahwa tekanan kebijakan moneter mulai mereda, sementara regulasi kripto di AS bergerak ke arah yang lebih konstruktif. Kepastian regulasi adalah faktor krusial bagi masuknya modal institusional, dan ini yang saat ini mulai diantisipasi oleh pasar,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Jumat, 16 Januari 2026.
|Baca juga: Bitcoin Turun dari US$94.000, Inilah Peluang dan Risiko Harga di 2026
Dia menambahkan bahwa secara teknikal, Bitcoin telah keluar dari fase konsolidasi yang cukup panjang sejak akhir 2025. “Penembusan area US$94.000 yang kini menjadi support kuat menunjukkan dominasi pembeli semakin solid. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk menguji kembali area psikologis US$100.000 tetap terbuka,” jelasnya.
Selain faktor regulasi dan inflasi, arus dana institusional juga menjadi pendorong utama. Tercatat, ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus masuk dana bersih lebih dari US$750 juta dalam satu hari, tertinggi sejak Oktober 2025. Di saat yang sama, terjadi rotasi modal dari pasar saham dan emas, seiring meningkatnya volatilitas di pasar keuangan tradisional.
Namun demikian, Fyqieh mengingatkan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto. Meski tren Bitcoin masih bullish, pasar kini memasuki fase yang kerap disebut sebagai ‘bagian tersulit’ dalam reli: setelah breakout terjadi, pergerakan berikutnya biasanya tidak seatraktif lonjakan awal karena harga cenderung melambat di area-level tinggi.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
