Media Asuransi, JAKARTA – Tensi geopolitik menjadi perhatian di awal tahun ini dengan aksi AS di Venezuela, konflik terkait Greenland, dan aksi demonstrasi di Iran. Lanskap geopolitik dunia sedang mengalami masa perubahan seiring dengan arah kebijakan AS yang mengedepankan kepentingan nasional, ‘America First’. Selain itu ada peningkatan peran kekuatan baru di dunia seperti China dan Rusia yang memungkinkan friksi geopolitik antar negara semakin rentan terjadi.
Implikasinya, kondisi ini dapat menyebabkan volatilitas jangka pendek di pasar dan menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi global dalam jangka menengah-panjang. Terutama dengan menguatnya kebijakan bersifat proteksionisme yang mengikis kebebasan perdagangan global.
Portfolio Manager Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Laras Febriany, menyampaikan bahwa hal yang menarik adalah dari perspektif jangka pendek kondisi geopolitik ini justru mendorong terjadinya sinkronisasi kebijakan. Yakni banyak negara bersamaan mengimplementasikan pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif tahun ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik dan investasi di sektor strategis seperti teknologi dan pertahanan.
|Baca juga: Inilah Strategi Alokasi Bekal Pensiun dari MAMI, Agar Uang Bertahan Seumur Hidup
“Kebijakan akomodatif ini diperkirakan menjadi faktor positif yang menopang pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini,” kata Laras dalam keterangan tertulis, Kamis, 29 Januari 2026.
Dia jelaskan, ketegangan geopolitik berisiko untuk meningkatkan volatilitas di pasar sewaktu-waktu tanpa terprediksi. MAMI melihat risiko geopolitik sebagai ‘new normal’ bagi investor dan harus menjadi faktor pertimbangan dalam proses investasi. Tendensi investor global untuk memperkuat diversifikasi sebagai langkah manajemen risiko memitigasi risiko konflik global.
Diversifikasi dilakukan dari sisi mata uang, kelas aset, secara kawasan, maupun ke aset non-finansial seperti emas. Positifnya, kondisi ini membuka potensi aliran dana asing ke pasar negara berkembang yang ekonominya berorientasi domestik dan dengan risiko geopolitik lebih rendah yang tidak terlalu terdampak apabila terdapat gejolak global.
|Baca juga: 3 Tantangan Utama Investasi dan Solusi Investor Pemula Wajib Tahu
Sementara itu mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed untuk 2026, menurut Laras, The Fed diperkirakan akan lebih data-dependent tahun ini karena Fed Chair Powell berkomentar bahwa tingkat suku bunga sudah berada di zona netral. Median proyeksi The Fed di Desember mengindikasikan hanya satu kali penurunan suku bunga tahun ini.
“Namun kami juga mempertimbangkan masa jabatan Jerome Powell sebagai Fed Chair akan berakhir di Mei 2026. Kandidat pengganti Powell diperkirakan adalah sosok dengan pandangan dovish, selaras dengan Presiden Trump yang menginginkan suku bunga dapat turun lebih agresif. Oleh karena itu kami melihat masih ada potensi Fed Funds Rate dapat turun lebih dari satu kali tahun ini,” tuturnya.
Sedangkan di sisi domestik, setelah melalui kondisi pertumbuhan ekonomi yang lemah di periode 2024-2025, MAMI memandang pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi membaik di 2026. Tingkat suku bunga yang sudah lebih akomodatif diperkirakan dapat semakin memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Selain itu belanja negara diharapkan dapat menjadi motor bagi ekonomi tahun ini seiring dengan ekspektasi realisasi belanja dapat terjadi lebih cepat. Anggaran belanja negara tumbuh sembilan persen dalam APBN 2026, pertumbuhan tertinggi dalam tiga tahun, sehingga diperkirakan dapat menjadi faktor positif bagi ekonomi.
|Baca juga: MAMI Prediksi Imbal Hasil SBN10 Tahun Masih Berpotensi Turun
Menurut Laras, perkembangan posisi fiskal negara akan menjadi faktor yang terus menjadi perhatian bagi investor di pasar obligasi. MAMI menilai selama pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga defisit fiskal di bawah tiga persen sesuai undang-undang, maka sentimen di pasar akan tetap terjaga.
Permintaan di pasar domestik diperkirakan masih akan tetap kuat untuk menyerap kebutuhan penerbitan SBN didukung oleh peranan investor domestik di pasar SBN yang besar (kepemilikan investor domestik mencapai 86 persen dari total SBN) dan kebutuhan investor untuk mencari yield lebih menarik seiring tingkat suku bunga deposito perbankan yang telah turun signifikan.
Untuk mengurangi tekanan suplai di pasar domestik, pemerintah juga dapat meningkatkan penerbitan global bond. Pemerintah sudah menerbitkan kangaroo bond (obligasi pemerintah dalam Dolar Australia) dan dimsum bond (obligasi pemerintah dalam Chinese Renminbi) untuk pertama kalinya di 2025 yang direspons positif oleh pasar. Diversifikasi pembiayaan melalui optimalisasi penerbitan global bond dapat menjadi strategi pemerintah untuk menjaga tekanan suplai SBN di pasar domestik.
MAMI memperkirakan Bank Indonesia berada dalam fase akhir siklus penurunan suku bunga. Setelah penurunan agresif di 2025, potensi penurunan suku bunga lebih lanjut diperkirakan semakin terbatas seiring dengan fokus kebijakan BI yang beralih dari pro-pertumbuhan menjadi lebih berimbang antara pertumbuhan dan menjaga stabilitas rupiah.
|Baca juga: Pendanaan Insurtech Meroket di 2025, Ternyata Ini Alasannya!
BI akan semakin fokus untuk memperkuat transmisi penurunan BI Rate terhadap suku bunga kredit pinjaman untuk mendorong sektor riil. “Walau demikian, kami memperkirakan BI masih dapat menurunkan suku bunga 1-2 kali tahun ini ke level 4,25 persen hingga 4,50 persen, seiring dengan inflasi domestik yang masih terjaga dan ekspektasi The Fed beranjak lebih dovish,” jelas Laras.
Lebih lanjut dia sampaikan pandangan MAMI bahwa iklim makroekonomi masih akan tetap suportif bagi pasar obligasi. Suku bunga di level rendah dan berpotensi untuk kembali turun, serta inflasi domestik yang terjaga harusnya menjadi kondisi yang konstruktif bagi pasar obligasi.
Secara historis, indeks obligasi BINDO dapat mencatat kinerja positif pada tahun akhir siklus penurunan suku bunga seperti yang terjadi di tahun 2012, 2017, dan 2021. Namun kita juga harus menjaga ekspektasi di tengah masih adanya risiko geopolitik dan perkembangan postur fiskal Indonesia.
|Baca juga: Purbaya Tegaskan Ekonomi RI Tetap Kuat, Berikut Faktor Penyebabnya!
Dia jelaskan, strategi pengelolaan reksa dana obligasi MAMI dilakukan secara aktif berdasarkan analisa fundamental, memperhatikan outlook makroekonomi dan dinamika pasar obligasi domestik dan global. Diversifikasi menjadi kunci penting untuk menjaga tingkat risiko investasi.
Reksa dana obligasi yang memiliki karakteristik defensif dapat menjadi pilihan investor dalam menghadapi volatilitas jangka pendek di tengah ketidakpastian baik dari sisi global maupun domestik. MAMI mengelola portofolio secara aktif dan fokus kepada manajemen durasi serta pemilihan efek yang diharapkan dapat menjadi penopang kinerja portofolio di tahun ini.
“Selain itu kami juga terus mencermati likuiditas dan volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi memberikan hasil optimal dengan risiko yang terkendali,” kata Laras.
Menurut dia, reksa dana obligasi juga memiliki keunggulan dari segi fleksibilitas untuk melakukan pencairan atau pembelian kapan saja dengan harga unit yang jelas. Lini reksa dana obligasi MAMI juga memiliki fitur pembagian hasil investasi (PHI) seperti dividen yang dapat dimanfaatkan investor untuk mendapat pendapatan reguler atau untuk reinvestasi ke kelas aset lain tanpa melakukan pencairan reksa dana.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
