Media Asuransi, JAKARTA – Setelah menembus level psikologis 7.000, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memicu rotasi ke saham sensitif suku bunga. IPOT menilai momentum ini dapat dimanfaatkan lewat beberapa emiten perbankan dan konsumer yang segera merilis laporan keuangan kuartal kedua.
Di masa penguatan IHSG minggu lalu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menjelaskan, investor asing melakukan penjualan mencapai Rp1,6 triliun di pasar reguler.
|Baca juga: Profil Ari Yanuanto Asah, Plt Dirut Allo Bank (BBHI) yang Gantikan Indra Utoyo
|Baca juga: IPO Chandra Daya Investasi (CDIA) Alami Oversubscription hingga 563,64 Kali
“Meskipun IHSG berada di area psikologis 7.000 yang menandakan optimisme, pelaku pasar tetap harus waspada karena pada fase kenaikan ini investor asing justru melakukan penjualan,” jelas David, dikutip dari risetnya, Selasa, 15 Juli 2025.
Ia menilai penguatan IHSG selama sepekan terakhir tersengat sentimen global dan domestik. Dari global ada sentimen tarif AS dan suku bunga The Fed. Sedangkan sentimen dari domestik ada suku bunga BI. Selanjutnya sentimen terkait potensi energi terbarukan, di mana pemerintah kembali menegaskan komitmen terhadap target 23 persen bauran energi terbarukan di 2025.
|Baca juga: OJK Pelototi 6 Perusahaan Asuransi dan Reasuransi yang Bermasalah, Masuk Pengawasan Khusus?
Berbicara tentang potensi market pekan 14-18 Juli 2025, David mengimbau para pedagang untuk mencermati dua sentimen kunci yakni spekulasi pemangkasan suku bunga global dan rilis kinerja emiten kuartal kedua.
Rekomendasi
Merespons dinamika pasar yang didorong sentimen pemangkasan suku bunga global dan rilis kinerja emiten kedua, IPOT merekomendasikan saham-saham dengan booster modal yang terpengaruh suku bunga dan Reksa Dana Saham Power Fund Series (PFS) yakni:
1. Buy BBCA (Current Price: Rp8.625, Entry: Rp8.625, Target Price: Rp9.100 (5,51 persen), Stop Loss: Rp8.400 (-2,61 persen), Risk to Reward Ratio: 1:2,1)
Dengan potensi pelonggaran suku bunga global dan lokal sektor banking sangat menarik untuk diperhatikan. Laba bersih BBCA per Mei 2025 juga dilaporkan tumbuh 16 persen secara yoy. Jangka pendek BBCA mulai terlihat bottoming dan saat ini memberikan risk-reward yang cukup menarik sehingga layak buy.
2. Buy on Breakout ADMF (Current Price: Rp9.125, Entry: Rp9.250, Target Price: Rp9.800 (5,95 persen), Stop Loss: Rp9.000 (-2,70 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:2,2)
Emiten pembiayaan ADMF punya hubungan kuat dan berkorelasi dengan suku bunga. Dengan penurunan suku bunga mąką peminjam akan lebih tertarik untuk ambil kredit dengan bunga murah. Dalam jangka pendek emiten ini juga terlihat ada potensi untuk breakout dari area konsolidasinya.
|Baca juga: KPK Tetapkan 5 Tersangka Korupsi Pengadaan Mesin EDC di BRI, Siapa Saja?
|Baca juga: Bos OJK Bocorkan Poin-poin Penting di POJK Ekosistem Asuransi Kesehatan
3. Buy AADI (Current Price: Rp7.000, Entry: Rp7.000, Target Price: Rp7.575 (8,21 persen) Stop Loss: Rp6.676 (-4,63 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:1,8)
2025 mempunyai title renewable energy. Meskipun AADI fokus terhadap batu bara, tapi the whole group of Adaro saat ini sedang membangun Adaro Green dan dalam jangka pendek AADI sangat menarik karena mengonfirmasi area support yang telah diuji di level Rp6.675.
4. Buy Reksa Dana Saham Premier ETF MSCI Indonesia Large Cap (XIML)
Power Fund Series (PFS) XIML ini merupakan produk dengan komposisi MSCI Indonesia Large Cap. Saham large-cap cenderung tertinggal dalam reli pasar. Namun dengan mulai pulihnya arus modal asing dan stabilitas IHSG, rotasi sektor ke large-mid-cap sangat mungkin terjadi dan memberikan ruang catch-up performance.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News