1
1

MAMI Perkirakan Kebijakan Pemerintah di 2026 Masih Pro Pertumbuhan

Chief Investment Officer-Equity MAMI, Samuel Kesuma. | Foto: MAMI

Media Asuransi, JAKARTA – Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memperkirakan, pada 2026 ini postur kebijakan pemerintah tetap mengarah pada pro pertumbuhan, terutama upaya meningkatkan konsumsi dan daya beli. Indikator-indikator ekonomi di kuartal terakhir 2025 menunjukkan pemulihan, permintaan domestik meningkat, penjualan ritel menunjukkan perbaikan seiring dengan percepatan belanja pemerintah yang seperti biasa melonjak di kuartal terakhir, demikian pula halnya dengan investasi.

Secara tahunan, perekonomian Indonesia 2025 tumbuh 5,11 persen year on year (yoy). Sedangkan secara kuartalan, pertumbuhannya mencapai 5,39 persen yoy di kuartal IV/2025.

Dari sisi pasokan, likuiditas membaik seiring dengan turunnya BI Rate dan alokasi SAL di bank-bank pemerintah.  Sementara dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit di bulan terakhir 2025 meningkat ke 9,7 persen yang merupakan level tertinggi sejak Februari 2025, ditopang kredit investasi yang tumbuh 21 persen, walaupun memang kredit konsumsi dan modal kerja masih stagnan.

|Baca juga: Inilah Strategi Alokasi Bekal Pensiun dari MAMI, Agar Uang Bertahan Seumur Hidup

“Untuk tahun 2026, kami perkirakan postur kebijakan pemerintah tetap mengarah pada pro pertumbuhan, terutama upaya meningkatkan konsumsi dan daya beli,” kata Chief Investment Officer-Equity MAMI, Samuel Kesuma, dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 Februari 2026.

Menurut dia, kebijakan yang pro pertumbuhan tecermin dari langkah pemerintah membatalkan rencana cukai minuman dengan pemanis dan rokok, dan di lain pihak memberikan insentif berupa pajak penghasilan yang ditanggung pemerintah (bagi pekerja padat karya dengan penghasilan tertentu).

“Kami menilai kebijakan pro pertumbuhan masih akan dilanjutkan, sebagai  upaya agar pemulihan ekonomi yang sudah terjadi dapat terjaga konsisten di 2026 ini,” tutur Samuel.

|Baca juga: MAMI: Perbaikan Kondisi Ekonomi Mulai Terjadi Tahun Depan

Dia tambahkan, jika kita menarik data lebih panjang, fundamental ekonomi Indonesia satu dekade terakhir menunjukkan perkembangan positif. Kinerja neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan terus membaik. Pertanyaannya adalah, mengapa hal ini tidak tercermin pada peningkatan minat investor asing ke pasar saham Indonesia? Contohnya  di 2025 lalu di tengah tren pelemahan dolar AS, rupiah pun  malah ikut melemah, dan dana asing justru tergerus dari pasar saham.

Menurut Samuel, secara umum negara berkembang memiliki karakteristik lebih dinamis dibandingkan dengan negara maju yang dipersepsikan lebih mapan atau established. Hal ini terjadi karena basis ekonomi negara berkembang yang biasanya lebih sempit dan masih terbatas, tata kelola institusi dan pemerintah yang senantiasa berevolusi mencari bentuk terbaik, masalah sosial yang lebih kompleks, kesadaran politik yang baru mulai matang, dan sebagainya. Alhasil dari sisi ekonomi dan politik, biasanya negara berkembang  lebih rentan volatilitas.

Inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Ketimbang faktor fundamental kuantitatif, saat ini faktor-faktor kualitatif ditengarai menjadi pemicu utama yang mempengaruhi persepsi investor jangka pendek, misalnya eksekusi program pemerintah yang ambisius di tengah keterbatasan potensi anggaran, yakni target penerimaan negara tahun ini naik 14 persen, di atas rata-rata 10 tahun yang kenaikannya hanya berkisar tujuh persen, kemudian independensi bank sentral juga saat ini sedang menjadi perhatian,  belum lagi ‘teguran’ MSCI terkait transparansi data pasar saham.

|Baca juga:MAMI Prediksi Imbal Hasil SBN10 Tahun Masih Berpotensi Turun

“Distorsi persepsi, mungkin itu kata yang tepat menggambarkan mengapa faktor fundamental kita seperti terdistraksi oleh noises-noises beraneka ragam yang sedang terjadi sekarang,” jelasnya.

Positifnya faktor persepsi masih dapat dipulihkan, bergantung pada kebijakan pemerintah serta komunikasinya kepada masyarakat global dan investor. Hal ini diharapkan membuat faktor fundamental Indonesia dapat kembali menjadi parameter utama investor dalam mempertimbangkan keputusan investasi jangka panjang.

Terkait dengan MSCI yang mengindikasikan potensi penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks, atau bahkan reklasifikasi dari emerging market menjadi frontier market yang dapat memicu aksi jual investor asing, mestinya tidak berlanjut. “Saat ini skenario reklasifikasi turun ke frontier market dipandang memiliki probablitas rendah, karena respons dari regulator dan pemerintah yang cepat dan serius. Dalam hitungan hari, pemerintah telah mengubah beberapa peraturan secara signifikan,” tegas Samuel.

Di sisi lain, masih dapat ketidakpastian hingga tenggat waktu Mei 2026 terhadap perkembangan MSCI ini, sehingga kami perkirakan fluktuasi tinggi di pasar saham 2-3 bulan masih akan terjadi. Positifnya, peristiwa ini akan mempercepat reformasi bursa menjadi lebih sehat secara jangka panjang, dan mengembalikan daya tarik terhadap saham berbasis fundamental.

|Baca juga: CEO MAMI: Ada Peluang Orang Indonesia untuk Jadi Lebih Kaya

Untuk mengantisipasi volatilitas jangka pendek di pasar saham strategi MAMI saat ini adalah terus fokus terhadap proses investasi kami yang untuk berinvestasi di perusahaan yang memiliki fundamental yang baik dan diperdagangkan dalam valuasi yang wajar dan ‘masuk akal’. Dalam jangka pendek, aksi jual yang terjadi secara merata membuat valuasi dari saham-saham dengan fundamental yang baik menjadi semakin menarik.

Menurut Samuel, beberapa perusahaan dengan kapitalisasi besar saat ini bahkan menawarkan dividen yield yang lebih tinggi dari imbal hasil obligasi negara. Koreksi pasar ini juga direspons oleh program buyback yang diumumkan oleh emiten-emiten yang merasa harga sahamnya saat ini berada di bawah nilai wajarnya.

“Setelah level kepanikan mereda, kami melihat ada peluang pemulihan di saham-saham yang mencatat pertumbuhan laba dan arus kas yang baik,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa MAMI melihat dinamika pasar saham ke depannya memiliki peluang untuk menjadi lebih sehat. Likuiditas investor yang tadinya lebih fokus ke saham-saham yang menjadi kandidat inklusi ke MSCI, secara bertahap akan beralih ke saham-saham dengan katalis yang berbasis pada faktor fundamental seperti ekspektasi pertumbuhan laba yang superior atau prospek pembayaran dividen yang menarik.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Melejit ke 8.132 di Sesi I
Next Post Komisaris Independen Dinilai Punya Peran Krusial Perkuat Tata Kelola Perasuransian

Member Login

or