Media Asuransi, JAKARTA – Di masa ketika siapa pun dapat membuka aplikasi investasi, membaca ringkasan pasar, dan membeli saham dalam hitungan menit, muncul pertanyaan yang sering terdengar: Apakah peran manajer investasi masih relevan?
Jawabannya: tetap sangat penting. Karena di balik setiap portofolio profesional terdapat proses terstruktur yang menggabungkan analisis kuantitatif, penilaian kualitatif, dan manajemen risiko, sebuah disiplin yang jauh melampaui pendekatan investor ritel.
Berikut ini penjelasan Director & Chief Investment Officer (CIO) Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Ezra Nazula, mengenai bagaimana manajer investasi bekerja, mengelola dana masyarakat dalam konstruksi portofolio reksa dana.
|Baca juga: OJK Komitmen Dorong Manajer Investasi segera Dirikan DPLK, Sudah Tahap Apa?
Menurutnya, tim investasi bekerja layaknya laboratorium riset, bukan ruang trading yang bergerak spontan. Setiap keputusan lahir dari diskusi menyeluruh mengenai kondisi makroekonomi, fundamental perusahaan, dinamika lintas‑aset, dan berbagai skenario risiko.
Proses dimulai dari sebuah ide investasi, misalnya peluang valuasi, perubahan regulasi, atau tren struktural seperti transisi energi. Ide ini tidak langsung dieksekusi, melainkan diuji melalui debat internal antara analis ekuitas, ekonom, spesialis kredit, dan tim risiko.
“Tujuannya bukan mencari konsensus cepat, tetapi menguji kekuatan ide dari berbagai perspektif sampai benar‑benar solid. Investor ritel sering kali melewatkan tahap kritis ini, mengandalkan intuisi atau sentimen pasar semata,” kata Ezra dalam keterangan tertulis yang dikutip Rabu, 18 Februari 2026.
|Baca juga: 5 Hal Penting Sebelum Pilih Platform Investasi Emas Digital
Dia jelaskan, kombinasi analisis kuantitatif ditambah kualitatif, sama dengan investasi yang disiplin. Menurut dia, manajer investasi yang andal selalu menggabungkan data dan penilaian manusia.
Analisis kuantitatif mencakup model faktor untuk memahami eksposur terhadap gaya investasi (value, growth, momentum), simulasi risiko yang menguji ribuan kondisi makro, screening valuasi berbasis data historis panjang, dan mengoptimalkan portofolio untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil.
Namun angka saja tidaklah cukup. Analisis kualitatif, dari hasil kunjungan perusahaan, wawancara dengan manajemen, pemahaman industri, hingga intuisi profesional, membantu membaca hal-hal yang tak terbaca oleh model kuantitatif.
“Sebuah saham mungkin tampak murah di atas kertas, tetapi pengalaman profesional dapat mengungkap risiko tersembunyi yang tidak tercermin dalam data. Kombinasi ilmu data dan kebijaksanaan manusia inilah yang menciptakan keputusan yang konsisten dan terukur,” tutur Ezra.
Bagaimana strategi diversifikasi dijalankan
Banyak investor ritel memahami teori diversifikasi, tetapi gagal menerapkannya secara efektif. Diversifikasi bukan soal jumlah aset, tetapi soal korelasi. Manajer investasi mendiversifikasi portofolio investasi melalui kelas aset, yakni saham, obligasi, pasar uang, alternatif. Kemudian geografi, yaitu AS, Eropa, Asia Pasifik, negara berkembang atau emerging markets. Selanjutnya, sektor dan tema, misalnya: keuangan, konsumsi, kesehatan, energi terbarukan. Serta faktor risiko, seperti sensitivitas suku bunga, inflasi, siklikal vs defensif, dan maturitas waktu, yaitu memadukan kebutuhan jangka pendek dan tujuan jangka panjang.
|Baca juga: Kategori Kegiatan Usaha Manajer Investasi Bakal Dibagi, Begini Penjelasan Bos OJK!
Selain itu, diversifikasi bersifat dinamis. Ketika korelasi antar sektor meningkat atau risiko tertentu makin dominan, manajer investasi menyesuaikan posisi untuk menjaga stabilitas portofolio. Ini adalah langkah yang sering diabaikan investor individu.
Manajer investasi memiliki alat penunjang dan kecakapan yang tak dimiliki investor umum. Industri pengelolaan aset menggunakan perangkat yang jauh lebih canggih daripada aplikasi investasi biasa, antara lain:
- Kebijakan investasi yang menjaga disiplin dan batas risiko.
- Platform riset dan data eksklusif, lengkap dengan histori puluhan tahun.
- Mesin simulasi skenario untuk menguji portofolio dalam kondisi ekstrem seperti resesi atau lonjakan suku bunga.
- Model risiko kredit yang menilai kesehatan keuangan perusahaan secara mendalam.
- Komite risiko dan dewan investasi yang mengawasi setiap keputusan penting.
|Baca juga: Inilah Strategi Alokasi Bekal Pensiun dari MAMI, Agar Uang Bertahan Seumur Hidup
“Ekosistem inilah yang memastikan portofolio tetap tangguh menghadapi volatilitas pasar,” tegas Ezra Nazula.
Keunggulan manusia
Manajemen investasi adalah tentang kepercayaan dan stewardship. Manajer investasi bertugas melindungi kekayaan klien dengan perpaduan sains, pengalaman, dan disiplin yang tidak mudah digantikan mesin atau kemampuan satu individu saja. “Di tengah banjir informasi dan dinamika pasar yang cepat berubah, merekalah yang siap membantu memberikan arah, ketenangan, dan strategi jangka panjang,” kata Ezra.
Dia tambahkan, MAMI memiliki tim investasi yang kuat dengan pengalaman rata-rata 18 tahun di industri finansial. Saat ini MAMI mengelola 37 produk reksa dana termasuk reksa dana dividen, syariah, dan offshore.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
