1
1

Minimnya Katalis Pasar Domestik Membuat Pasar Finansial Kembali Tertekan

Ilustrasi. | Foto: Freepik

Media Asuransi, JAKARTA – Pasar saham Indonesia kembali mengalami koreksi pada perdagangan hari ini setelah sempat rebound pada hari sebelumnya, seiring dengan membaiknya sentimen risiko di pasar regional. Pada perdagangan hari ini tekanan kembali muncul di pasar kawasan seiring dengan kenaikan harga minyak global.

Harga minyak mentah WTI sempat diperdagangkan di atas US$81 per barel, mencapai level tertinggi sejak Juli 2024 dan mencatat lonjakan harian terbesar sejak tahun 2020. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan distribusi energi global menyusul penutupan de facto Selat Hormuz, yang menyebabkan banyak kapal tanker terdampar di Teluk Persia. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi penurunan pasokan minyak global dan memaksa kilang di Asia untuk mencari sumber pasokan alternatif.

Dikutip dari Spring Flash yang diterbitkan PT Eastspring Investments Indonesia, Jumat, 6 Maret 2026, pasar diperkirakan akan tetap bergejolak hingga jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz dapat kembali beroperasi normal. Saat ini, hampir seperlima dari pasokan minyak dan LNG harian dunia terpengaruh oleh gangguan tersebut.

|Baca juga: Efek MSCI dan Moody’s Dinilai Bersifat Jangka Pendek terhadap Pasar Keuangan RI

Sentimen pasar juga tertekan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Israel-AS vs Iran terus meningkat, dengan Israel dilaporkan melancarkan serangan skala besar lainnya terhadap Teheran, sementara Iran membalas dengan meluncurkan beberapa rudal ke arah Israel.

Pelaku pasar domestik masih memantau potensi dampak konflik tersebut terhadap harga minyak global, stabilitas nilai tukar rupiah, dan implikasinya terhadap postur fiskal Indonesia. Selain itu, pasar masih menunggu respons dari MSCI mengenai potensi penyesuaian bobot free float, yang juga merupakan faktor yang membayangi pergerakan pasar saham domestik. Pada penutupan sesi perdagangan tengah hari, IHSG telah melemah sekitar -2,61 persen atau sebesar -201,44 poin ke posisi 7.509,10. Beberapa saham yang menjadi penekan utama adalah BMRI (-3,22 persen), BBRI (-1,87 persen), BRMS (-7,60 persen), BREN (-3,42 persen), dan ASII (-3,56 persen).

Perkembangan global dan domestik yang kurang kondusif juga tercermin di pasar obligasi domestik. Imbal hasil obligasi SBN cenderung meningkat di sebagian besar tenor, dengan imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik satu basis points (bps) ke level 6,60 persen. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya kehati-hatian investor terkait risiko global dan tekanan pada aset berisiko di pasar negara berkembang.

|Baca juga: BEI Umumkan Kepemilikan Saham Emiten Lebih dari 1%

Dalam kondisi yang masih penuh ketidakpastian, pelaku pasar perlu menyadari bahwa dinamika pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik yang berkembang pesat. Selama belum ada tanda-tanda de-eskalasi, volatilitas di pasar finansial kemungkinan akan tetap tinggi dalam jangka pendek.

Dalam situasi seperti itu, sangat penting bagi investor untuk menjaga disiplin investasi dan tidak membiarkan gejolak jangka pendek memengaruhi tujuan investasi jangka panjang. Pergerakan pasar yang berfluktuasi sering kali mencerminkan respons sementara terhadap perkembangan berita dan sentimen, dan tidak selalu mencerminkan perubahan mendasar dalam prospek ekonomi.

“Sejauh ini, skenario dasar kami masih memandang bahwa konflik ini lebih sebagai volatility event daripada structural event. Dengan kata lain, dampaknya diperkirakan lebih bersifat sementara, dan tidak menimbulkan perubahan mendasar pada fundamental perekonomian global,” tulis Eastspring Investments.

Editor: S . Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Tertekan Outlook Fitch dan Perang di Timur Tengah
Next Post Mandiri Agen Terus Dipacu untuk Akselerasi Inklusi Keuangan hingga Pelosok Negeri

Member Login

or