Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengajak para pihak terkait untuk mendorong peningkatan partisipasi investor institusional domestik. Pasalnya, partisipasi industri asuransi komersil, dana pensiun sukarela, dan BPJS Ketenagakerjaan di pasar modal mengalami penurunan.
“Ini kita melihat bagaimana perusahaan yang investor institusional domestik termasuk perusahaan asuransi, dana pensiun, dan juga BPJS Ketenagakerjaan cenderung mengurangi investasi di pasar saham,” kata Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, dalam Market Outlook 2026, Selasa, 3 Maret 2026.
|Baca juga: Konflik Timur Tengah dan Penutupan Selat Hormuz, OJK Soroti Ancaman Inflasi dan Volatilitas Pasar
|Baca juga: Timur Tengah Membara, Premi Asuransi Kapal Diprediksi Melesat!
Kiki sapaan akrabnya menjelaskan tren semacam ini harus di balik dengan melakukan reformasi di pasar saham. Selain itu, perlu ada penegakan hukum yang tegas dan konsisten yang merupakan pilar utama untuk menegakkan integritas.
“Tentunya kita harus membalik tren ini dengan reformasi di pasar saham yang bold dan juga ambisius. Kalau kita melihat tentu saja berbagai penegakan hukum yang tegas dan juga konsisten merupakan pilar utama kita untuk menegakkan integritas,” jelasnya.
Selain itu, lanjutnya, OJK percaya diri target untuk penghimpunan dana di sektor pasar modal mampu tercapai pada tahun ini. “Kita juga sangat confidence harapan kita target untuk outlook pengimpunan dana di sektor pasar modal ini mampu tercapai,” ujarnya.
|Baca juga: Serangan AS-Israel ke Iran Picu Ketegangan, Eksportir Waspadai Lonjakan Biaya Logistik
|Baca juga: Pasar Asuransi Non-Jiwa RI Disebut Mampu Beradaptasi dengan Peraturan Modal yang Ketat
Sementara untuk kredit perbankan, OJK memproyeksikan mampu tumbuh 10-12 persen di 2026 dengan dukungan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di kisaran 7-9 persen. Sedangkan di industri asuransi diproyeksikan tumbuh 5-7 persen dan aset dana pensiun diprediksi tumbuh 10-20 persen.
Guna memaksimalkan target tersebut, Kiki mengajak adanya sinergi kepada para pihak terkait. Sinergi yang dilakukan penting karena pada ujungnya bisa mendukung pertumbuhan industri pasar modal dan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang.
“Karena sebenarnya kita mengajak secara sinergi untuk investor institusional domestik, kemudian berbagai pihak, perbankan, asuransi, dan lain-lain untuk kita bersinergi untuk bagaimana meningkatkan sumber pendanaan untuk bisa mendukung program prioritas nasional dan pertumbuhan ekonomi kita,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
