1
1

Citi: Perdagangan Global Alami Transformasi Fundamental Didorong Adopsi AI

Gedung Citi. | Foto: Citi Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Citi meluncurkan edisi terbaru dari laporan Global Perspectives & Solutions (Citi GPS) bertajuk ‘Pembiayaan Rantai Pasok: Perdagangan Global yang Tangguh di Era AI‘.

Temuan utama dalam laporan ini menyoroti bahwa perdagangan global sedang mengalami transformasi yang fundamental, didorong oleh volatilitas tarif, adopsi kecerdasan buatan (AI), dan pergeseran menuju rantai pasok multipolar dan regional.

Terlepas dari berbagai tantangan yang signifikan, lanskap bisnis menunjukkan ketahanan yang luar biasa dan dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kebijakan sembari mempertahankan fokus strategis pada diversifikasi dan optimasi modal kerja.

|Baca juga: WOM Finance (WOMF) Guyur Dana Jumbo ke Maybank, untuk Apa?

|Baca juga: Maybank Indonesia (BNII) Salurkan Kredit Rp123,64 Triliun di 2025

Global Head of Trade and Working Capital Citi Adoniro Cestari mengatakan teknologi secara fundamental merekayasa ulang cara pembiayaan perdagangan beroperasi. Pemrosesan dokumen cerdas yang ditenagai oleh kecerdasan buatan (AI) meningkatkan tingkat akurasi dan mempercepat proses menjadi hanya dalam hitungan menit.

“Melalui uji coba pembayaran perdagangan bersyarat berbasis blockchain, kami melihat adanya potensi evolusi dari jaminan standar berbasis kertas menuju eksekusi digital dan otomasi penyelesaian pembayaran dalam waktu hampir 24/7,” kata Adoniro, dikutip dari keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.

Laporan ini memaparkan wawasan industri dari Indeks Tekanan Rantai Pasok Global atau Global Supply Chain Pressure Index (GSCPI), arus pembayaran dari proses bisnis Services Citi yang bernilai lebih dari US$5 triliun setiap harinya, serta hasil survei dari tanggapan berbagai perusahaan multinasional dan Usaha Kecil Menengah (UKM).

|Baca juga: 48% Pelaku Asuransi di Asia Pasifik Keluhkan Beban Pelaporan Regulator

|Baca juga: Bank Mandiri (BMRI) Siapkan Uang Tunai Rp44 Triliun saat Ramadan dan Idulfitri

Di saat tarif Amerika Serikat (AS) meningkat menjadi sekitar 16,8 persen dari 2,4 persen sebelum adanya perubahan dari Pemerintah AS, indeks menunjukkan tekanan terhadap rantai pasok tetap rendah dan mendekati tingkat pra-pandemi.

“Perusahaan-perusahaan berhasil menavigasi guncangan tarif awal melalui manajemen inventaris strategis, diversifikasi pemasok, dan inisiatif nearshoring yang dipercepat,” tukasnya.

Analisis barang dagang menunjukkan adanya reorganisasi perdagangan global yang kompleks. Asia Selatan dan ASEAN muncul sebagai pemenang utama, dengan peningkatan pengiriman 44 persen dari Asia Utara dan Asia Timur.

Amerika Latin telah terintegrasi secara mendalam ke dalam rantai pasok yang terkait dengan Asia dan Amerika Utara, dengan ekspor ke Asia Selatan dan ASEAN melonjak 82 persen —satu-satunya peningkatan terbesar secara global.

AS mendiversifikasi basis impornya, dengan pengiriman dari Asia Selatan dan ASEAN naik 50 persen dan dari Amerika Latin naik 43 persen, keduanya melebihi pertumbuhan 32 persen dari Asia Utara dan Asia Timur.

Laporan ini meneliti bagaimana kecerdasan buatan mendorong terjadinya fenomena langka yaitu siklus super belanja modal di pusat data (data center). Citi Research memperkirakan belanja modal terkait kecerdasan buatan global akan mencapai US$7,75 triliun pada 2030.

Pembiayaan perdagangan memainkan peran yang semakin penting dalam ekosistem ini, dengan solusi mulai dari pembiayaan rantai pasok hingga program piutang terstruktur yang mendukung sifat pengembangan pusat data kecerdasan buatan yang kompleks dan padat modal.

Adopsi kecerdasan buatan dalam pembiayaan perdagangan mengalami percepatan signifikan, dengan 36 persen perusahaan besar sekarang menggunakan alat kecerdasan buatan, meningkat 18 persen dari tahun sebelumnya.

“Berbagai jenis inovasi ini, dikombinasikan keahlian penstrukturan, membantu perusahaan untuk meningkatkan likuiditas dan mengoptimalkan modal kerja sambil mendukung rantai pasok yang lebih efisien, serta pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan besar-besaran yang sedang berlangsung secara global,” kata Adoniro Cestari.

Manajemen modal kerja menjadi sebuah keharusan bagi jajaran eksekutif (C-suite), dengan 64 persen perusahaan mengutip peningkatan biaya input sebagai kekhawatiran utama mereka. Rata-rata, 6,3 persen dari modal kerja saat ini terikat untuk mendanai biaya tarif.

Menanggapi isu ini, perusahaan-perusahaan menerapkan pembiayaan inventaris, program piutang terstruktur, dan diskon dinamis untuk melepaskan likuiditas yang terperangkap.

Survei Citi terhadap 710 perusahaan besar mengungkapkan 65 persen perusahaan secara aktif mendiversifikasi rantai pasok dari satu atau lebih negara, dengan Vietnam, Thailand, India, dan Meksiko muncul sebagai destinasi pilihan.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Tertekan ke 8.255 di Sesi I
Next Post OJK Luncurkan Laporan Penilaian Risiko Iklim dan Maturitas Keberlanjutan Perbankan

Member Login

or