Media Asuransi, JAKARTA – Sejumlah jajaran Direksi dan Dewan Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA terpantau kompak melakukan aksi beli saham perusahaan dalam jumlah besar pada akhir Maret 2026.
Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), langkah itu dilaporkan sebagai bagian dari strategi investasi pribadi jangka panjang para petinggi bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.
Transaksi dilakukan secara serentak pada 25 Maret 2026 dengan harga pelaksanaan sebesar Rp6.982 per lembar saham. Aksi borong saham ini melibatkan nama-nama besar di jajaran manajemen, termasuk Jahja Setia Atmadja selaku Presiden Komisaris BCA yang menambah kepemilikannya sebanyak 802.056 unit saham.
|Baca juga: Ini 6 Langkah Efektif Lunasi Utang Kartu Kredit Anti Molor
|Baca juga: Cara Menghitung Dana Pensiun agar Kebutuhan Hidup di Masa Tua Tetap Terpenuhi
“Sesuai dengan POJK 4/2024 tentang Laporan Kepemilikan atau Perubahan Kepemilikan Saham Perusahaan Terbuka, saya melaporkan telah memiliki saham perusahaan dengan rincian yang telah disampaikan,” tulis Jahja dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Senin, 30 Maret 2026.
Selain Jahja, jajaran direksi juga menunjukkan kepercayaan serupa terhadap fundamental perusahaan. Direktur BCA Haryanto Tiara Budiman, tercatat membeli 379.428 unit saham, yang membuat total kepemilikannya meningkat menjadi 1.436.806 unit.
|Baca juga: Funding Korporasi Bank Mega Syariah Capai Rp5,9 Triliun di 2025
|Baca juga: 10 Cara Investasi Emas untuk Pemula, Aman, dan Menguntungkan
Di saat yang sama, Direktur BCA Lianawaty Suwono juga menambah porsi kepemilikannya sebanyak 465.825 unit saham. Tak ketinggalan, beberapa direktur lainnya seperti Frengky Chandra Kusuma menambah 405.990 unit, A. Widodo Mulyono sebanyak 240.569 unit, dan Hendra Tanumihardja sebesar 147.933 unit saham.
|Baca juga: Jahja Setiaatmadja Borong 802.056 Saham BCA (BBCA)
|Baca juga: Ramadan Dorong Konsumsi, Flip Perkuat Transaksi Belanja Online Lewat Flip Deals
Fenomena aksi beli oleh orang dalam (insider buying) ini kerap dipandang pasar sebagai sinyal optimisme manajemen terhadap pertumbuhan kinerja emiten bersandi saham BBCA tersebut di masa mendatang.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
