Media Asuransi, JAKARTA – Melonjaknya aktivitas transaksi selama Ramadan dan Idufitri menjadi momentum tingginya modus kejahatan siber, khususnya phishing. Hal tersebut bersamaan dengan momentum pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) yang dinilai kerap dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital kepada tabungan masyarakat.
Corporate Secretary PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) atau BNI Okki Rushartomo mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus kejahatan siber yang terjadi. Ia mengatakan peningkatan transaksi keuangan pada periode Ramadan membuat risiko serangan siber ikut meningkat.
|Baca juga: Pengamat: Ramadan dan Idulfitri Jadi Momentum Tepat Pasarkan Produk Asuransi Syariah
|Baca juga: Ramadan dan Idulfitri Disebut Periode Strategis Perkuat Kesadaran Masyarakat tentang Asuransi
“Nasabah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital yang semakin canggih, terutama menjelang Lebaran ketika transaksi keuangan meningkat signifikan,” ujar Okki, dikutip dalam keterangan resminya, Kamis, 26 Februari 2026.
Menurutnya, phishing masih menjadi salah satu bentuk kejahatan siber yang paling umum terjadi. Dalam modus ini, pelaku menyamar sebagai institusi resmi atau pihak tepercaya untuk mencuri data pribadi, seperti username, kata sandi, kode OTP, hingga informasi kartu kredit.
Serangan phishing biasanya dilakukan melalui email, pesan singkat (SMS), panggilan telepon, maupun media sosial. Pelaku mengirimkan pesan yang tampak meyakinkan agar korban mengklik tautan palsu, membuka lampiran berbahaya, atau memberikan informasi sensitif tanpa disadari.
Okki menjelaskan phishing dapat menjadi pintu masuk kejahatan yang lebih serius, mulai dari pencurian identitas hingga pengambilalihan akun dan transaksi ilegal yang merugikan nasabah. Bahkan, tren terbaru menunjukkan serangan semakin tertarget dan sulit dikenali karena memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.
Beberapa ciri yang patut diwaspadai antara lain alamat email pengirim yang mencurigakan, penggunaan sapaan umum seperti ‘Pelanggan yang Terhormat’, bahasa bernada mendesak, serta tautan yang menyerupai situs resmi namun memiliki alamat berbeda.
|Baca juga: Dana Pensiun Bank Jateng Lego 306 Ribu Lembar Saham Asuransi Digital (YOII), Ada Apa?
|Baca juga: Asuransi Perjalanan, Kendaraan, hingga Kecelakaan Diri Diyakini Dapat ‘Berkah’ Ramadan dan Idulfitri
BNI mengimbau nasabah untuk selalu memeriksa alamat pengirim dan memastikan pesan berasal dari sumber resmi. Masyarakat juga diminta menghindari membuka lampiran dari pengirim tidak dikenal, mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA), serta menggunakan kata sandi yang kuat dan unik.
Dia menambahkan nasabah juga tidak boleh membagikan data pribadi, PIN, password, maupun kode OTP kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku dari bank. Jika menemukan aktivitas mencurigakan atau dugaan phishing, masyarakat dapat melaporkannya melalui email cert@bni.co.id.
“Tak lupa dan paling penting, jangan sembarangan klik link atau tautan yang dibagikan via email, chat, SMS, dan sebagainya,” pungkas Okki.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
