1
1

Buka Indonesia Rendezvous ke-30, AAUI Ajak Industri Perasuransian Perkuat Kolaborasi

Suasana pembukaan Indonesia Rendezvous ke-30. | Foto: Media Asuransi/Muh Fajrul Falah

Media Asuransi, BALI – Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) resmi membuka Indonesia Rendezvous ke-30 di Garuda Wisnu Kencana, Bali, Senin, 12 Oktober 2026.

Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan penyelenggaraan Indonesia Rendezvous selama tiga dekade telah berkembang menjadi wadah bagi pelaku industri untuk membangun hubungan bisnis, bertukar pengalaman, dan memperkuat kolaborasi.

Menurutnya, pelaku industri perlu menjaga kerja sama meskipun berasal dari perusahaan dan memiliki kepentingan bisnis yang berbeda. Kolaborasi dinilai penting untuk membangun industri asuransi dan reasuransi yang lebih kuat, sehat, dan tepercaya.

“Persaingan membuat kita menjadi lebih baik, sedangkan kolaborasi membuat kita menjadi lebih kuat,” ujar Budi, dalam sambutannya pada pembukaan Indonesia Rendezvous ke-30 di Bali, Senin, 12 Oktober 2026.

Budi mengatakan industri asuransi dan reasuransi Indonesia saat ini menghadapi perubahan kondisi ekonomi, tantangan bisnis yang semakin kompleks, serta peningkatan ekspektasi masyarakat. Selain itu, pelaku industri juga perlu menyesuaikan diri dengan berbagai regulasi baru yang akan memengaruhi perkembangan industri ke depan.

Dia mengajak pelaku industri untuk menyikapi perubahan regulasi secara konstruktif melalui komunikasi terbuka dan penyampaian masukan kepada regulator. Dengan demikian, kebijakan yang diterapkan diharapkan dapat memperkuat ketahanan industri sekaligus memberikan manfaat bagi perusahaan dan masyarakat.

“Daripada memandang setiap regulasi baru sebagai tantangan semata, mari kita juga melihat peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki industri kita,” katanya.

|Baca juga: BSI Catat Laba Capai Rp5,3 Triliun hingga Agustus 2026

|Baca juga: AAUI Bakal Gelar Indonesia Rendezvous ke-30, Ini yang Dibahas!

Dirinya menambahkan Indonesia memiliki potensi pasar asuransi yang besar seiring dengan jumlah penduduk yang tinggi, perkembangan aktivitas bisnis, dan meningkatnya kebutuhan terhadap perlindungan finansial.

Untuk memanfaatkan peluang tersebut, perusahaan asuransi tidak cukup hanya memperluas bisnis masing-masing, tetapi juga perlu saling mendukung dan meningkatkan kerja sama.

Chairman of the Supervisory Board AAUI Robby Loho mengatakan Indonesia Rendezvous telah menjadi wadah yang mempertemukan perusahaan asuransi, reasuransi, retrosesi, serta pialang asuransi dan reasuransi selama 30 tahun.

Menurutnya, pertemuan tersebut berperan dalam memperluas hubungan bisnis antarpelaku industri. Berbagai krisis dan perubahan siklus pasar yang terjadi selama tiga dekade tidak menghentikan penyelenggaraan acara tersebut.

“Indonesia Rendezvous juga menjadi kesempatan bagi pelaku industri untuk menjajaki pembaruan perjanjian reasuransi atau renewal treaty serta mendiskusikan kondisi pasar yang akan memengaruhi penempatan reasuransi pada periode berikutnya,” ujarnya.

Dia memperkirakan pasar reasuransi pada tahun mendatang akan lebih lunak atau memasuki fase soft market. Kondisi tersebut diharapkan dapat mendorong penurunan tarif reasuransi dan retroseksi dibandingkan tahun ini.

Managing Director and Head of Property & Casualty, Southeast Asia Munich Re Michael Hauer menyoroti sejumlah tantangan global yang turut memengaruhi industri asuransi dan reasuransi, mulai dari perubahan iklim, disrupsi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), hingga perubahan ekspektasi nasabah.

Menurut Michael, tantangan tersebut juga membuka peluang bagi industri untuk mengembangkan inovasi, memperluas perlindungan, dan meningkatkan kerja sama di seluruh ekosistem asuransi.

Dia menilai Indonesia memiliki prospek yang menjanjikan di pasar asuransi Asia karena didukung perekonomian yang dinamis dan kebutuhan terhadap solusi perlindungan yang terus berkembang.

Michael menambahkan industri asuransi dan reasuransi memiliki tanggung jawab bersama untuk meningkatkan ketahanan masyarakat, memperkecil kesenjangan perlindungan asuransi, serta mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan.

“Hal ini tidak hanya membutuhkan modal, tetapi juga keahlian, kepercayaan, kemitraan, dan perspektif jangka panjang,” pungkas Michael.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post PT Asuransi Sinar Mas: Njoman Sudharta Ahli Keuangan dengan Visi Strategis

Member Login

or