1
1

Ajaib Kripto: Bitcoin Akan Menguji Level US$64.000

Ilustrasi. | Foto: Freepick

Media Asuransi, JAKARTA – Ajaib Kripto memperkirakan harga Bitcoin (BTC) menguji level resistance di US$64.000 dan MA-50 di level US$65.250.

Sepanjang akhir pekan lalu, harga Bitcoin kembali berupaya membangun tren naik setelah kokoh bertahan di support US$60.000. Sementara itu, rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) sekaligus pidato Jerome Powell minggu ini dapat mendukung atau menghancurkan tren pergerakan BTC.

Setelah menghadapi tekanan jual selama akhir pekan lalu, BTC bangkit mendekat ke US$63,000 hari ini. Pada Selasa (14/5) pukul 08:00 WIB BTC bertengger di US$62.795, melonjak 2,86% selama 24 jam terakhir dengan kapitalisasi pasar US$1,24 triliun. Adapun total kapitalisasi pasar Aset Kripto juga mengalami pergerakan serupa dengan menguat sebesar 1,22% menjadi US$2,28 Triliun.

|Baca juga: To The Moon, Nilai Transaksi Kripto Tembus Rp103 Triliun di Kuartal I

Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha mengatakan secara teknikal pada Selasa (14/5) BTC potensi menguji resistance US$64.000 dan MA-50 di sekitar US$65.250 jika mampu bertahan di atas MA-20 dan MA-100. Sementara apabila turun di bawah MA-20 dan MA-100 maka potensi akan membawa BTC kembali ke support US$60.000,” katanya dalam riset, Selasa, 14 Mei 2024.

Di sisi lain, kenaikan Bitcoin dalam 24 jam terakhir telah berdampak positif ke altcoin khususnya memecoin yang mendominasi top gainers pagi ini seperti: PEPE +16,65%, FLOKI +12,82%, serta DOGE, BOME, dan BONK  juga kompak mengalami kenaikan di atas 7% dalam periode 24 jam terakhir.

 

Minggu Lalu

BTC sempat mengalami kenaikan mendekati harga US$63.500 pada perdagangan Kamis (9/5) pekan lalu, didorong oleh data klaim awal tunjangan pengangguran di AS (initial jobless claims) sebesar 231.000 lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 212.000 dan tertinggi sejak akhir Agustus 2023.

Namun tidak berangsur lama, harga Bitcoin kembali turun ke kisaran US$60.200 sehari setelahnya. Hal ini menyusul laporan Universitas Michigan pada hari Jumat (10/5) yang menunjukkan sentimen konsumen Amerika Serikat (AS) merosot ke level terendah dalam enam bulan pada bulan Mei karena kekhawatiran terhadap biaya rumah tangga.

|Baca juga: Berbalik Rebound, Harga Bitcoin Menguji Level US$65.800

Sementara dari perdagangan ETF Bitcoin spot pekan lalu ditutup dengan net inflow sebesar $116,8 juta dengan perdagangan dibuka positif dengan inflow sebesar US$217 juta pada Senin (6/5) dan Jumat (10/5) ditutup dengan outflow sebesar US$84,70 juta.

 

Minggu ini

Seiring pasar kripto bersiap menghadapi minggu penting, perhatian beralih kepada indikator ekonomi di tengah ketidakpastian pasar. Menurut Survei Federal Reserve Bank of New York, yang dirilis pada hari Senin (14/5) menemukan bahwa orang Amerika memperkirakan inflasi sebesar 3,3% setahun dari sekarang dari 3% di bulan Maret. Sementara mereka memperkirakan inflasi tiga tahun dari sekarang sebesar 2,8%.

Minggu ini, pasar akan mendapatkan lebih banyak wawasan mengenai angka inflasi AS. Pada hari Selasa (14/5), Amerika Serikat akan merilis data Indeks Harga Produsen (PPI) sementara sehari kemudian pada hari Rabu (15/5), mereka akan merilis Indeks Harga Konsumen (CPI).

CPI AS untuk periode April diperkirakan menjadi 0,4% MoM, sama dengan periode sebelumnya dan 3,4% YoY, lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 3,5% YoY. Di sisi lain , PPI untuk April diprediksi naik menjadi 0,3% MoM, lebih tinggi dari periode sebelumnya sebesar 0,2% MoM. Adapun secara tahunan PPI diperkirakan naik menjadi 2,2% YoY, lebih tinggi dari periode sebelumnya 2,1% YoY.

|Baca juga: Prediksi Harga Bitcoin Jelang Halving, Naik atau Turun?

“Serangkaian data ekonomi, terutama data CPI dan PPI AS, bersama dengan komentar pejabat Fed, berpotensi akan menjadi katalis penggerak utama untuk pasar kripto pekan ini. Jika data yang rilis sesuai atau lebih rendah dari perkiraan akan memicu optimisme yang potensi mendorong Bitcoin naik diatas $65.000, sementara jika data muncul di atas ekspektasi pasar berpotensi kembali akan membawa Bitcoin turun di bawah US$60.000 ke kisaran US$56.000-US$57.000,” ujar Panji.

Panji melanjutkan, trader juga sangat responsif dan sensitif terhadap pidato Jerome Powell, khususnya ketika pernyataan terkait keputusan kebijakan yang ingin diambil oleh The Fed. Secara keseluruhan, investor tidak memperkirakan penurunan suku bunga pada pertemuan Fed berikutnya di bulan Juni. “Fokus sekarang tertuju pada bulan September untuk penurunan suku bunga pertama pada tahun 2024.”

Menurut alat FedWatch CME memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 24,6% pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Juli dan peluang 48,6% pada pertemuan bulan September. Pedagang yang berminat mengantisipasi kemungkinan 96,5% suku bunga tidak berubah pada pertemuan bulan Juni.

Editor: Achmad Aris

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Telkom Indonesia (TLKM) Setor Dividen Rp9,21 Triliun ke Negara
Next Post Launching The New Face of Samesta Sentraland Cengkareng Jakarta

Member Login

or