1
1

Kesenjangan Pemahaman Asuransi Siber Masih Membayangi UKM Australia

Ilustrasi. | Foto: BPPTIK Komdigi

Media Asuransi, GLOBAL – Perusahaan asuransi spesialis CFC mengungkapkan masih adanya kesenjangan pemahaman di kalangan usaha kecil dan menengah (UKM) mengenai ancaman siber serta manfaat perlindungan asuransi siber. Padahal, serangan siber dan pelanggaran data telah menjadi salah satu risiko bisnis terbesar yang dihadapi pelaku usaha.

|Baca juga: Rekomendasi Nasabah Jadi Kunci Industri Asuransi Terus Tumbuh di 2026

Temuan tersebut terungkap dalam riset global pertama CFC bertajuk The Cyber Insurance Disconnect. Studi ini menunjukkan bahwa pemahaman UKM terhadap berbagai ancaman siber belum sejalan dengan risiko yang tercermin dalam data klaim perusahaan.

Hasil penelitian mencatat, hanya 30 persen UKM yang mengidentifikasi phishing dan rekayasa sosial sebagai ancaman utama. Sementara itu, 30 persen responden menyebut ransomware dan 28 persen mengakui kesalahan manusia sebagai risiko yang signifikan.

|Baca juga: BRI (BBRI) Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun hingga Januari 2027

Angka tersebut berbeda dengan data klaim CFC. Ransomware tercatat menyumbang 64 persen dari biaya klaim siber, sedangkan kesalahan manusia terlibat dalam 75 persen klaim siber. Perbedaan ini menunjukkan bahwa sejumlah ancaman yang berdampak besar terhadap bisnis belum sepenuhnya dipahami oleh pelaku UKM.

Selain pemahaman mengenai risiko, penelitian tersebut menemukan bahwa banyak UKM belum mengetahui cakupan perlindungan yang tersedia melalui asuransi siber. Sebanyak 72 persen responden tidak menyadari bahwa polis dapat mencakup insiden akibat kesalahan manusia. Kemudian, 71 persen tidak mengetahui adanya perlindungan keamanan siber proaktif, 68 persen belum memahami bahwa dukungan respons insiden dapat menjadi bagian dari perlindungan, dan 69 persem tidak mengetahui tersedianya bantuan hukum serta regulasi.

Di Australia, hampir separuh UKM yang disurvei menempatkan serangan siber dan pelanggaran data sebagai risiko bisnis terbesar. Bahkan, tujuh dari sepuluh UKM mengaku pernah mengalami insiden siber dalam tiga tahun terakhir.

|Baca juga: Danantara Incar Masuknya Investasi Capai US$30 Miliar di Gelaran NAF 2026

Kondisi ini memperlihatkan bahwa meningkatnya kesadaran terhadap risiko siber belum sepenuhnya diikuti pemahaman mengenai bentuk ancaman yang dihadapi serta peran asuransi dalam membantu penanganan dan pemulihan setelah insiden terjadi.

Kepala Pengembangan Siber Global CFC, Lindsey Maher, menekankan pentingnya komunikasi yang lebih jelas mengenai manfaat perlindungan asuransi siber bagi pelaku usaha.

“Bisnis membutuhkan penjelasan yang lebih jelas tentang perlindungan dan dukungan yang tersedia sebelum, selama, dan setelah insiden siber,” ujar Maher dikutip dari Insurance Asia, Jumat, 23 Oktober 2026.

Menurut dia, broker asuransi memiliki peran penting dalam menjembatani kesenjangan pemahaman tersebut. Broker dapat membantu nasabah mengenali risiko yang dihadapi sekaligus menjelaskan bagaimana asuransi siber mendukung proses pemulihan dan memperkuat ketahanan bisnis ketika menghadapi serangan.

Tantangan ini semakin relevan seiring dengan meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI). Sekitar 77 persen UKM di Australia yang menjadi responden memperkirakan AI akan meningkatkan risiko siber mereka dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Hal ini mencerminkan kekhawatiran mengenai kesiapan bisnis dalam menghadapi ancaman yang berkembang seiring penggunaan teknologi baru.

Di sisi lain, laporan CFC menemukan adanya hubungan antara kepemilikan asuransi siber dan tingkat kepercayaan diri pelaku usaha dalam mengelola risiko. Sebanyak 94 persen UKM yang memiliki asuransi siber menyatakan yakin terhadap kemampuan mereka mengelola risiko siber. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 61 persen UKM yang tidak memiliki perlindungan serupa.

Kesiapan bisnis juga terlihat dari perencanaan keberlangsungan usaha. Sembilan dari sepuluh UKM yang memiliki asuransi siber melaporkan telah mempunyai rencana keberlangsungan bisnis. Selain itu, UKM yang diasuransikan disebut 23 kali lebih mungkin memiliki strategi siber formal dibandingkan bisnis yang tidak memiliki perlindungan tersebut.

CFC menilai temuan ini menegaskan perlunya peningkatan edukasi mengenai asuransi siber, terutama bagi UKM yang semakin bergantung pada teknologi digital. Pemahaman terhadap risiko, cakupan polis, serta layanan pendukung diharapkan dapat membantu pelaku usaha mengambil keputusan perlindungan yang lebih tepat.

Studi The Cyber Insurance Disconnect berfokus pada UKM di berbagai pasar global dengan pendapatan tahunan di bawah US$25 juta. Riset ini bertujuan membantu broker memahami perspektif bisnis kecil terhadap risiko siber sekaligus memperjelas peran asuransi dalam mengelola risiko, mendukung pemulihan, dan menjaga keberlangsungan usaha di tengah ancaman digital yang terus berkembang.

Editor: Irdiya Setiawan 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Rekomendasi Nasabah Jadi Kunci Industri Asuransi Terus Tumbuh di 2026
Next Post Jepang Wajibkan Agen Asuransi Jelaskan Dasar Rekomendasi Produk kepada Nasabah

Member Login

or