Oleh DR. Eddy Keleng Ate Berutu
Selama puluhan tahun, perusahaan diajari satu pertanyaan: Apa yang bisa menggerus keuntungan kita? Kini dunia menuntut pertanyaan kedua yang sama pentingnya: Apa yang sudah kita lakukan terhadap orang dan alam di sekitar kita?
Dua pertanyaan inilah yang disebut materialitas ganda. Ini bukan sekadar istilah baru dalam laporan tahunan. Inilah cara pandang yang menentukan apakah sebuah perusahaan dipercaya investor, diterima masyarakat, dan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Sementara itu, ada tiga istilah yang perlu dipahami. Pertama, ESG yang merupakan singkatan dari Environmental, Social, Governance (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola). Selama ini ESG lebih sering dipakai untuk menjawab satu pertanyaan: risiko apa yang bisa mengganggu keuntungan perusahaan.
Kedua, impact investing (investasi berdampak) adalah investasi yang sengaja dilakukan untuk menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat atau lingkungan, sambil tetap mencari untung. Fokusnya ada pada perubahan yang terjadi di dunia nyata.
Ketiga, double materiality (materialitas ganda) menyatukan keduanya. Perusahaan melihat dua hal sekaligus, yakni apa yang bisa merugikan atau menguntungkan perusahaan, dan apa dampak perusahaan terhadap orang serta alam di sekitarnya. Tanpa cara pandang ini, laporan ESG mudah menjadi formalitas, dan klaim ‘berdampak’ mudah menjadi sekadar pencitraan.
Di sisi lain, ada dua cara melihat, yakni dari luar ke dalam dan dari dalam ke luar.
Kata “material” di sini berarti “cukup penting untuk diperhatikan dan dilaporkan”. Sebuah isu dianggap material bila lolos salah satu, atau kedua, ujian berikut.
| Materialitas keuangan | Materialitas dampak | |
| Arah pandang | Dari luar ke dalam: keadaan dunia memengaruhi perusahaan | Dari dalam ke luar: kegiatan perusahaan memengaruhi dunia |
| Pertanyaannya | Apakah isu ini bisa mengurangi atau menambah uang perusahaan? | Apakah kegiatan kami merugikan atau menguntungkan orang dan alam? |
| Siapa yang paling peduli | Pemegang saham, bank, investor | Warga sekitar, karyawan, pemerintah, investor berdampak |
| Contoh pabrik semen | Pajak karbon naik, biaya produksi membengkak | Debu pabrik membuat warga sekitar sakit pernapasan |
Kedua sisi ini saling terkait. Masalah yang hari ini “hanya” merugikan warga, seperti polusi, besok bisa berubah menjadi kerugian uang bagi perusahaan lewat denda, gugatan, atau penolakan masyarakat. Karena itu, keduanya perlu dipantau bersamaan.
Aturan Main yang Berlaku
Ada beberapa ‘buku panduan’ pelaporan yang dipakai dunia. Masing-masing menekankan sisi yang berbeda.
| Panduan | Siapa pembuatnya | Sisi yang ditekankan |
| ISSB (IFRS S1/S2) | Lembaga standar akuntansi internasional | Keuangan saja: risiko yang memengaruhi uang perusahaan |
| GRI | Lembaga independen global | Dampak saja: pengaruh perusahaan ke orang dan alam |
| ESRS / CSRD | Uni Eropa | Keduanya sekaligus, dan wajib (kini sedang disederhanakan) |
| POJK 51/2017 dan TKBI | OJK, Indonesia | Laporan keberlanjutan wajib bagi perusahaan terbuka dan lembaga keuangan, TKBI menggolongkan kegiatan mana yang ‘hijau’ |
Artinya, perusahaan Indonesia yang menjual ke Eropa atau mencari dana dari investor global sebaiknya sudah menerapkan materialitas ganda, walaupun aturan dalam negeri belum mewajibkannya secara tegas.
Cara Melakukannya: 6 Langkah
Penilaian ini sebaiknya diulang setiap tahun, atau setiap kali bisnis berubah besar.
1. Petakan seluruh rantai usaha. Lihat dari pemasok bahan baku, kegiatan di pabrik atau kantor sendiri, sampai produk dipakai pelanggan.
2. Buat daftar panjang isu. Contohnya emisi, limbah, keselamatan kerja, upah, hak masyarakat sekitar, dan korupsi.
3. Dengarkan pihak yang berkepentingan. Ajak bicara karyawan, warga sekitar, pemerintah, investor, dan pembeli. Utamakan suara mereka yang paling terdampak.
4. Nilai dampak ke luar. Seberapa besar dampaknya, berapa banyak orang yang terkena, apakah kerusakannya bisa dipulihkan, dan seberapa mungkin terjadi.
5. Nilai dampak ke keuangan. Seberapa mungkin isu itu menggerus atau menambah pendapatan, dalam jangka pendek maupun panjang.
6. Putuskan dan catat. Tetapkan batas mana yang dianggap penting, minta persetujuan direksi, dan simpan semua bukti agar bisa diperiksa auditor.
Langkah 5 harus tersambung dengan manajemen risiko perusahaan (sering disebut ERM/Enterprise Risk Management), yaitu sistem perusahaan untuk mengenali dan mengendalikan risiko. Dengan begitu, isu keberlanjutan tidak berhenti di laporan, tetapi ikut dikelola sehari-hari.
Materialitas ganda mengubah cara perusahaan bercermin. Keuntungan tetap penting, tetapi kini harus berjalan seiring dengan tanggung jawab kepada orang dan alam. Perusahaan yang mulai lebih awal, dengan jujur dan terukur, akan lebih dipercaya investor, lebih diterima masyarakat, dan lebih siap menghadapi aturan yang terus berkembang.
Kamus istilah
| Istilah | Arti sederhana |
| ESG | Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola: tiga aspek untuk menilai apakah perusahaan dijalankan secara bertanggung jawab |
| Impact investing | Investasi yang sengaja dibuat untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat atau alam, sambil tetap mencari untung |
| Materialitas | Seberapa penting suatu isu sehingga perlu diperhatikan dan dilaporkan |
| Double materiality | Melihat dua sisi: pengaruh dunia ke keuangan perusahaan, dan pengaruh perusahaan ke dunia |
| ERM | Sistem perusahaan untuk mengenali dan mengendalikan risiko |
| ISSB, GRI, ESRS | Buku panduan internasional untuk menyusun laporan keberlanjutan |
| POJK 51/2017 | Peraturan OJK yang mewajibkan laporan keberlanjutan bagi lembaga keuangan dan perusahaan terbuka |
| TKBI | Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia: daftar acuan kegiatan usaha yang tergolong hijau atau transisi |
Catatan: aturan di bidang ini cepat berubah. Ketentuan terbaru ISSB, Uni Eropa, IAI, dan OJK sebaiknya dicek ulang sebelum tulisan ini dipublikasikan.
Penulis adalah Co-Founder MB-Institut, lembaga pengembangan kapasitas bagi BUMN, korporasi, dan lembaga pemerintahan, dengan fokus pada Governance, Risk & Compliance, kepemimpinan adaptif, ESG, serta mutu dan keamanan pangan (HACCP/ISO 22000).
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

