Media Asuransi, JAKARTA – Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai periode Ramadan hingga Idulfitri menjadi momentum yang relatif positif bagi industri asuransi umum, meski dampaknya bersifat selektif pada sejumlah lini usaha tertentu.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengungkapkan peningkatan mobilitas masyarakat menjelang Lebaran mendorong potensi kenaikan premi pada produk-produk yang berkaitan langsung dengan aktivitas perjalanan.
|Baca juga: Investasi Asuransi di Saham Naik Jadi 20%, Bos AAUI: Industri akan Berhitung Cermat
|Baca juga: Penyaluran Kredit Bank Mandiri (BMRI) Tumbuh 15,62% Jadi Rp1.511,4 Triliun di Januari 2026
Hal tersebut, lanjut Budi, dikarenakan terus terjadinya lonjakan dalam arus mudik, melalui berbagai jalur dan secara otomatis meningkatkan eksposur risiko kecelakaan.
“Peningkatan mobilitas masyarakat menjelang Idulfitri mendorong potensi kenaikan pada asuransi perjalanan, asuransi kendaraan bermotor, serta asuransi kecelakaan diri mengingat risiko kecelakaan meningkat seiring intensitas perjalanan darat, laut, maupun udara,” kata Budi, kepada Media Asuransi, dikutip Selasa, 24 Februari 2026.
|Baca juga: AAUI Catat Premi Industri Reasuransi Capai Rp17,82 Triliun di Kuartal IV/2025
|Baca juga: Bencana Banjir di Sumatra Diramal Buat Klaim Asuransi Melonjak di Kuartal I/2026
|Baca juga: PAAI Minta Dialog dengan DJP soal Perpajakan Agen Asuransi, Begini Respons AAUI!
Selain perjalanan dan kendaraan, asuransi pengiriman barang atau kargo juga diproyeksikan mengalami pertumbuhan. Hal itu lantaran dalam momen Ramadan dan Lebaran identik dengan lonjakan konsumsi masyarakat yang mendorong peningkatan aktivitas distribusi barang dan transaksi e-commerce.
“Selain itu, asuransi pengiriman barang juga berpotensi tumbuh karena lonjakan distribusi dan transaksi e-commerce selama Ramadan hingga Lebaran, yang meningkatkan eksposur risiko kerusakan atau kehilangan barang dalam proses logistik,” jelasnya.
AAUI juga melihat adanya peluang peningkatan kesadaran masyarakat terhadap perlindungan properti, khususnya asuransi kebakaran rumah tinggal. Hal ini seiring tradisi mudik, di mana banyak rumah ditinggalkan dalam kondisi kosong selama beberapa hari bahkan pekan.
“Ke depan, kami juga berharap asuransi properti, khususnya asuransi kebakaran rumah tinggal, semakin mendapat perhatian. Banyak rumah ditinggalkan dalam keadaan kosong saat mudik, sehingga risiko kebakaran atau pencurian perlu diantisipasi melalui perlindungan yang memadai,” kata Budi.
Secara keseluruhan AAUI menilai Ramadan bukan hanya momentum peningkatan bisnis, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat literasi risiko dan mendorong masyarakat semakin sadar akan pentingnya perlindungan asuransi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
