Media Asuransi, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan berpotensi meningkatkan klaim asuransi kesehatan akibat gangguan kesehatan masyarakat yang terpapar asap.
Namun demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum melihat adanya lonjakan klaim yang signifikan dari perusahaan asuransi kesehatan sejauh ini,
Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Iwan Pasila mengatakan dampak karhutla terhadap masyarakat lebih banyak berkaitan dengan risiko kesehatan. Meski demikian, perkembangan klaim asuransi kesehatan sejauh ini masih berada dalam batas yang wajar.
“Kayaknya asuransi kesehatan kemungkinan bisa terdorong juga, tapi belum, kita belum lihat dampaknya,” ujar Iwan, saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 19 Oktober 2026.
Menurut dia, OJK belum menemukan peningkatan klaim yang mencolok atau spike akibat karhutla. Tren klaim yang dipantau regulator masih relatif sejalan dengan kondisi pada bulan-bulan sebelumnya.
“Kalau kita lihat trennya memang belum terlalu kelihatan ada spike. Ya masih dalam batas yang memang wajar, seperti bulan-bulan sebelumnya,” katanya.
|Baca juga: MSCI Usulkan Pasar Saham RI Jadi Standalone, OJK Buka Suara soal Dampaknya ke Investasi Asuransi
Iwan mengingatkan masyarakat yang terdampak karhutla agar lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan. Paparan asap kebakaran dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang berpotensi mendorong masyarakat membutuhkan layanan medis.
|Baca juga: Samir Salurkan Pembiayaan ke Luar Jawa Rp1,02 Triliun, Tumbuh 62%
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan luas karhutla nasional pada periode Januari-Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare. Angka ini meningkat sekitar 69 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025.
Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan dampak kebakaran terbesar. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan periode Januari-Juli 2026, luas lahan terbakar di provinsi tersebut mencapai 28.216,31 hektare. Angka itu menempatkan Kalimantan Barat di posisi teratas secara nasional pada periode tersebut.
Sementara itu, kebakaran masih berlangsung di Kalimantan Tengah. Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalimantan Tengah mencatat 66 kejadian karhutla dalam periode 24 jam hingga Minggu 18 Oktober 2026 pukul 18.00 WIB.
Luas lahan yang terbakar dalam periode tersebut mencapai 109,70 hektare, dengan 8.087 titik panas tercatat dalam laporan harian. Secara kumulatif sejak 1 Januari hingga 18 Oktober 2026, jumlah titik panas di Kalimantan Tengah mencapai 325.412 titik dengan total 6.639 kejadian karhutla.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

